Puasa, Idul Fitri, dan berlebaran, selalu menyertai tahun demi tahun. Ya, layaknya Natal, Paskah, atau, Imlek, dan lain-lain, dia selalu dirayakan. Layaknya pula tahun baru, jika dirayakan tanpa kemeriahan, rasanya hampa saja. Maka dua hari Idul Fitri atau lebaran selalu disanjung dengan sebutan Hari Kemenangan. Kemenangan atas hawa nafsu jasmani yang sedikit aku sayangkan karena mungkin hanya berlaku selama satu bulan berpuasa. Bulan Ramadhan.
Hari-hari berlebaran yang belum lama lalu ini, aku lewati dengan berkeliling di sekitar wilayah Kota Yogyakarta. Kota yang mulai bergerak modern, namun masih kental dengan budaya tradisional ini memang manyuguhkan hal yang mungkin sedikit berbeda. Pawai kendaraan bermotor di jalan-jalan kota, tidak hentinya membunyikan klakson dan orang ramai menggemakan takbir bersama-sama. Tidak lupa mercon atau kembang api dinyalakan sebagai juga tanda telah datangnya hari kemenangan. Jalan-jalan utama kota Jogja malam itu cukup padat.
Mobil bak terbuka juga turut membawa orang-orang dari berbagai kampung menunjukkan eksistensi wilayahnya dalam menyambut Hari Kemenangan ini. Spanduk bertuliskan nama kampung, menempel di hidung mobil, dan orang-orang di dalam bak terbukanya, ceria menggemakan takbir, menyulut kembang api meramaikan jalan kota, sudah seperti tahun baru keadaannya.
Bahkan disalah satu mobil bak terbuka, peralatan musik layaknya pertunjukkan organ tunggal dangdut turut pula dimainkan, menggemakan takbir. Namun, tentu saja minus biduan dan penari yang biasa hadir dengan pakaian minim seadanya. Jika mereka hadir, bisa-bisa mobil yang terbakar jadinya.
Dari jalan-jalan kota, sepeda motorku kemudian melaju menelusur jalan-jalan kampung. Di suatu kampung kawasan jembatan layang Janti, tidak kalah riang menyambut hari kemenangan. Suasananya riuh ramai namun tetap khusuk. Ketika aku lewat jalan kampung itu, anak-anak kecil ceria menggemakan takbir, membawa obor dan kentongan, membunyikannya mengitari jalan kampung, hendak menuju Masjid.
Oncor atau obor dari botol-botol kaca menyala di sekitar jalan menuju Masjid. Jalanan kampung yang gelap menjadi terang oleh karena cahayanya. Meski pun hanya sekadar lewat, namun aku turunkan kecepatan motorku, menghormati mereka, dan memang sengaja ingin melihat dan merasakan lebih lama, suasana di kampung itu. Suasana kampung dan tradisional yang begitu kental terasa.
Cukup kontras bedanya dengan apa yang terjadi di jalan-jalan kota, di mana sesak oleh lalu lalang kendaraan bermotor. Gema takbir di kota diiringi oleh bunyi raungan gas dan klakson kendaraan, juga ledakan dari kembang api yang disulut. Sementara di kampung ini, takbir hanya digemakan oleh para anak kampung, diiringi bunyi kentongan dan sayup-sayup suara jangkrik. Berdesir juga hati dibuatnya, sedikit merinding.
Kesederhanaan dan suasana tradisional itu, yang seiring dengan perkembangan modernisasi, mungkin bisa jadi terkikis dan menghilang. Bagaimana merayakan sebuah momen apapun itu, lebih dengan kesederhanaan dan mungkin melakukan refleksi diri. Kegembiraan yang dimaknai dengan cara berbeda.
Apapun momennya, bagaimanapun cara memaknainya, disuasana Idul Fitri, Hari Kemenangan tahun ini, aku cukup mendapat perbandingan dari suasana sederhana dan tradisional kampung yang meski hanya sekilas aku rasakan. Pikir menjadi berkeliaran menyambungkan setiap makna yang tertangkap oleh mata malam itu.
Malam Idul Fitri itu berlalu dengan keceriaan dan ramai warga masyarakat yang melakukan konvoi di jalan-jalan kota. Pada sisi lainnya, suasana kesederhanaan muncul di pelosok-pelosok kampung. Suasana malam itu pun cukup kondusif aman dan terkendali.
Perbedaan cara merayakan setiap hari raya agama harapannya agar selalu dapat berjalan dengan lancar, baik itu Idul Fitri, Imlek, Natal, Paskah, Nyepi, dan lainnya. Dengan itu, masyarakat berarti telah lebih dewasa dalam memaknai perbedaan, toleransi dengan sesama yang berlatar belakang apapun.
Makna dan semangat Hari Kemenangan atau apapun itu, layaknya tidak hanya diejawantahkan menjadi proses seremonial belaka. Perayaan bisa jadi berlaku hanya dalam satu hari atau satu minggu saja, namun makna, dia harus terus meresap disetiap waktu, tidak satu hari atau satu minggu dan kemudian berlalu tanpa bekas sama sekali. Makna dan semangat Hari Kemenangan, bukan hanya satu hari saja.
September 24, 2009
Hari Kemenangan dan Lain-lain
posted by Dany Ismanu at 9:08 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 Comments:
Post a Comment