May 11, 2009

Soal-soal Generasi, Organisasi, dan Regenerasi

"Setiap zaman akan melahirkan generasinya..."

Ungkapan di atas dapat merujuk pada soal-soal kepemimpinan, organisasi, dan regenerasi. Kelahiran setiap generasi berarti akan melanjutkan atau sama sekali menggantikan keberadaan generasi sebelumnya, dalam segala hal. Proses yang terjadi di dalam pergantian tersebut ialah regenerasi.

Di dalam sebuah organisasi mana pun, regenerasi menjadi sangat penting nilainya, tentu saja untuk kelangsungan hidup organisasi itu sendiri. Dia menjadi proses transformasi nilai, baik fisik maupun psikis. Nilai yang juga dapat diartikan sebagai visi, misi, dan tujuan sebuah organisasi. Idealnya selalu memiliki pertanggungjawaban terhadap kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya. Pun sewaktu-waktu, regenerasi dapat menjadi misi penyelamatan yang dibutuhkan ketika kepemimpinan organisasi yang lama telah renta dan tidak berkembang dengan baik.

Bagi organisasi-organisasi mahasiswa (ormawa), masa penerimaan mahasiswa baru (inisiasi) menjadi momen yang tepat. Inisiasi dipercaya menjadi ladang subur untuk dapat menuai pemikiran dan pandangan baru nan segar dari ribuan mahasiswa baru yang masuk. Namun, kader dan kaderisasi, generasi dan regenerasi bukan pula tanpa masalah.

Dalam prosesnya, organisasi mahasiswa menjadi pihak yang aktif bergerak. Organisasi harus bisa meluluskan motif transaksional, di mana si generasi baru dapat melihat dan mengambil keuntungan jika dia bergabung dengan organisasi yang bersangkutan. Motif ini merupakan sifat dasar manusia yang rasanya terlalu naif jika ditiadakan. Namun bukan berarti tidak ada generasi baru yang memang dengan tulus hati ingin membesarkan sebuah organisasi, dan mungkin orang-orang ini memiliki pandangan berbeda.

Di samping menonjolkan kelebihan yang dimiliki, setiap organisasi kiranya perlu juga membenamkan dalam-dalam, arti penting dan manfaat kehidupan berorganisasi di otak dan pemikiran mahasiswa baru. Mengingat sudah terlalu banyak mahasiswa apatis dan begitu nyaman merasakan ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi di sekitarnya. Baru teriak ketika tersenggol kepentingan pribadinya.

Di fakultas kita tercinta ini, pergantian tampuk kepemimpinan dan perekrutan anggota beberapa organisasi mahasiswa telah berjalan, dan akan berjalan. Ada yang lancar-lancar saja, bahkan kelewat lancar, ada yang terseok-seok, ada yang tidak tahu harus bagaimana, pun masih ada juga yang tidak peduli dengan organisasinya sendiri. Bagi yang lancar-lancar saja, dan baru akan melakukan, regenerasi hendaknya jangan dibatasi pada proses seremonial percuma, sarat makna dan esensi harus berbekas di dalamnya. Apalagi mereka yang sudah terseak-seok dan yang lebih buruk.

Jika makna tidak terbangun, kemungkinan akan ada generasi hilang (lost generation) dalam organisasi tersebut. Terbaca dari kuantitas yang sangat minim (bahkan nol) lalu kualitas menurun, atau malah kuantitas tinggi, namun kualitas dipertanyakan. Akan lebih baik kuantitas minim namun kualitas menanjak, dan jauh lebih baik, kuantitas tinggi diikuti dengan kualitas yang meningkat.

Keberadaan kuantitas dan kualitas memang menjadi tolak ukur. Namun keseimbangan keduanya yang lebih diharapkan. Telah terpapar di atas, bahwa kuantitas anggota bukan menjadi jaminan, bahkan bisa menjadi bumerang.

Masalah jatuh kepada dualisme anggota, antara dia sebagai kelompok kolektif organisasi sekaligus juga sebagai seorang individu. Tidak sedikit mereka yang bergabung saat permulaan, dan setelah meneguk ataupun sama sekali tidak terpenuhi motif transaksionalnya, menghilang tanpa jejak di kemudian hari. Proses seleksi alam, juga terjadi. Mereka yang bergabung, namun tidak mengerti dan tidak melakukan apa-apa, lalu secara perlahan namun pasti, menjadi asap.

Kasus kedua rasanya lebih banyak terjadi, dan masih banyak menyimpan misteri. Yang kemudian patut dipertanyakan adalah sikap mental dan moralitas, serta tanggung jawab dan rasa kecintaan terhadap pilihan-pilihan kita sendiri. Idealnya kita harus berusaha mengakhiri (dengan baik atau buruk) apa yang telah kita mulai, dan itu jauh lebih bernilai hidupnya ketimbang menjadi orang yang ragu-ragu, bahkan kemudian tidak melakukan apa-apa dan putus di tengah jalan. Ketika hal terakhir yang terjadi, berarti banyak individu yang tidak bertanggung jawab, dan dalam proses regenerasi mereka seharusnya menjadi orang-orang yang ‘tidak terpilih’.

DiFISIP sendiri, tidak bisa kita elakkan hangatnya sentimen-sentimen pribadi (baik dosen dan mahasiswa) maupun organisasi yang sudah mengakar dan menjadi sejarah serta rahasia umum. Bukan FISIP namanya jika tanpa dinamika yang seperti itu. Welcome to the jungle, this is politic and it could be worse. Namun hati-hati, ini juga bisa menjadi masalah dalam konteks regenerasi organisasi. Sikap sentimental yang tiada henti, hanya akan menimbulkan rasa ketidakpuasan dan sibuk dengan penilaian-penilaian subyektif tanpa koreksi, refleksi, dan evaluasi diri sekaligus organisasi. Akhirnya kekecewaan terpendam terakumulasi dan bisa meledak kapan saja, anjloklah mental dan rasa percaya diri penuh yang sekiranya pernah terbangun. Perlu dicatat, sentimen organisasi seperti itu seharusnya tidak menjadi nilai yang diagendakan dalam regenerasi.

Regenerasi sebagai suatu proses transformasi harus dimaknai lebih jauh lagi. Keberhasilan regenerasi dapat dinilai pula dari banyaknya tujuan organisasi yang tercapai. Semua hasil yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Organisasi mahasiswa di FISIP sendiri punya satu agenda tambahan, yaitu menciptakan suasana berpolitik dan bersosialisasi, serta demokratis dalam semua tingkat hubungan sosial. Kiranya begitu sekelumit hal tentang regenerasi. Ada permasalahan, ada koreksi dan refleksi sosial. Sekaligus kritik terhadap individu yang merasa menjadi bagian ataupun di luar organisasi, terkait dengan kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar. Semua yang sedikit ini merupakan hasil pemikiran dan eksplorasi diri pribadi yang bukan tanpa celah.

0 Comments: