Sudah lama tidak menulis, kali ini hanya sejumput cerita pendek...
Satu Langkah Kembali
Jeda waktu, aku sampai pada titik ini, garis batas merah jambu dan hitam. Titik dan garis di mana aku memenuhinya dengan bermacam kombinasi abjad, seluruh tanda, dan denyut nadi. Cahaya tidak akan datang menyilaukan, bahkan seterang menit-menit yang lalu, tidak mungkin. Dalam ini hanya ada sendiri aku, yang malah harus mencarinya, di antara desir hati dan romantisme. Tarik menarik antara dahulu dan kini, meraja di sekujur raga. Ketidakmungkinan bukan tidak mungkin nyata di hadapan mata, hadir ketika waktu menyihir, membelai, hingga membuat aku terlena pada zaman, pada masa-masa merah jambu.
“Bagaimana kelanjutan dan akhir goresan penamu nak?” Susunan kata itu tidak hentinya memekak, menemani telinga, ketika aku pada jeda waktu berada di beranda rumah. Dan selalu mengaum layaknya singa siap menerkam, ketika aku berada jauh di seberang melanjutkan goresan itu.
Itu suara ibu, dan aku hampir selalu, hanya membalasnya dengan keyakinan semu. Keyakinan berbalut kata dan kalimat madu, tidak sanggup meruntuhkan harga diri. Aku yakin ibu telah memahaminya. Dan saat aku menemukan matanya, ibu selalu membalas dengan sangat megah, sesederhana senyum lembut dan anggukan manis kepalanya, ditemani mata yang berkerdip pelan dan sayu, seluruh itu diselimutinya dengan hembusan nafas. Tidak sama sekali membuat hati bergidik, ataupun memekakkan telinga. Namun jauh lebih dari itu, luluh lantah harga diriku dibuatnya, nyawa bersembunyi dan tak berdaya. Bagiku dosa yang berulang terus hingga aku tiba pada titik dan garis ini. Pada keyakinan yang sesungguhnya nyata.
Masa-masa ini, aku sedang berada di seberang tempatku berpijak, tempat di mana aku mengais pemahaman tentang apapun itu, tentang segala. Tempat kehidupan, untuk menghidupi dan menghidupkan. Sejenak aku tinggalkan ibu yang mungkin berair mata, ayah yang selalu berpeluh di tengah terik, dan batu asalku yang semakin berdebu tergerus zaman. Sesekali mereka semua membelai lembut pikiranku, dengan perlahan membuat rindu menyentuh hati dan tak jarang diakhiri dengan air mata pula.
“Apa ini detiknya, untuk kita terbang menjauhi dunia?” tanyaku pada seorang sahabat. Ia menjawab, seakan telah memahami semuanya, membaca jalan pikirku. “Aku sedikit paham dan sedikit pula mengenal dirimu, sepertinya munafik layak untuk dilenyapkan,” katanya. “Simpanlah kalimat tanya tidak berguna itu, aku pikir ini belum detiknya.” Kata per katanya coba aku cerna, aku sesakkan dalam otakku.
Sahabatku ini memang belum pada sampainya, selangkah lagi ia harus berjalan. Satu langkah dengan beban seberat gerbong kereta menggelayuti kakinya, persis dengan apa yang aku lalui dahulu. Pun aku anggap, dia bukan tanpa arti. Kata manusia ‘asam garam dunia’, telah lebih banyak ia menelannya, diendapkannya dalam pikir. Dia berkata ini bukan detiknya.
Ya, asam garam dunia, telah berjuta manusia menyelaminya. Dia merasuk hanya bagi manusia yang menghendaki. Luka akan terasa sangat perih karenanya, namun kesembuhan dan pengetahuan baginya bukan hal yang sulit. Dan pertanyaanku itu meluncur ketika aku tiba pada titik dan garis ini. Aku hendak melambaikan tangan untuk mereka yang hanya berkenan mengecap manis pada bibirnya. Asam garam, atau bahkan pahit tidak pernah singgah menyambangi rasa mereka. Menurut sahabatku, kami masih harus membanjiri mereka dengan asam garam dan pahit itu. Menurut sahabatku, itulah wujud pertanggungjawaban kami yang telah menang langkah.
Mencoba menelusur celah-celah kecil dalam otakku, seluruh kejadian dan hal yang tak berwarna memenuhinya. Hati berdesir juga, raga terseret jauh merasa kejayaan masih digenggam jemari. Aku, sahabatku dan lainnya yang sama rendah, memaksa bumi melawan balik putarannya. Mereka dalam setangkup kecil itu berguncang hebat oleh karena nyali dan pemikiran kami. Tidak jarang kami mencerca diri ketika waktu terlalu berkuasa membuai menipu mata. Dan kemudian di luar sana, manusia-manusia yang menangis juga tertindas terus menanti menjulurkan tangan di hadapan mata. Kami yakin cairan otak kami yang menjalar menuju tubuh tidak lain jawaban bagi penantian itu. Senyum tipis mengembang dalam wajahku, tersadar aku, saat ini seluruhnya itu tidak lebih dari benda dan bayang tak berwarna. Namun akan selalu bermakna jika kami membanjiri mereka yang hendak kami tinggalkan, seperti ujar sahabatku.
Selepas jeda waktu ini, aku dan sahabat lainnya yang berpijak pada batu yang sama, ditarik kembali memikirkan mereka. Harus aku akui, hal ini juga yang membuatku merasa melakukan dosa yang terus berulang. Yang membuat ibu selalu menipu diri dengan kelembutannya. Dan kami bercakap seperti semuanya baik-baik saja. Hal ini yang menurut sahabatku, dan aku akhirnya setengah meyakini, harus kami tempuh, kembali.
“Wahai sahabat, apa mereka harus dibanjiri, dan bukankah mereka yang harus melumuri tubuh dan otak mereka sendiri?” luncuran kalimatku kembali menggugat, di mana diri butuh penyangga.
“Aku pikir, tidak akan pernah bisa mulut sampai langsung dihadapan telinga kawan, selain manusia lain yang dengan tulus meletakkan mulutnya di telinga kita, dan berteriak,” jawabannya membuat pikir selalu dipaksa bekerja, menarik makna, memecah analogi.
“Terkecuali kata-kata, dia bisa tiba di telinga, dan jauh panggang dari api jadinya ketika mereka tidak bisa mendengar hati mereka sendiri,” ditutupnya pertanyaanku.
Beribu suku kata yang bersatu dalam kalimat menjadi sebuah buku, menyertai sepotong cerita petang itu. Di sudut lain ruangan, sahabatku tajam melucuti surat kabar yang dibacanya. Sekarang aku benar-benar memantapkan diri meyakini, dunia belum detiknya ku tinggal. Peduli setan mereka bilang kami jumawa, atau lupa diri, mereka yang menasehati dengan mencerca namun tanpa terlihat mata.
Karena begitulah, setangkup kecil yang kami diami ini terlalu apatis dari jerit dan keadaan. Namun rasanya amat sangat terlalu skeptis memandang tulus dan kebaikan. Semua begitu nyaman, begitu damai, sementara nafas tak leluasa, dan semampai melenggang di atas api yang bertambah membara panasnya, perlahan membakar. Tak tahu ke mana arah setangkup ini, terapung di dalam kenyamanan, atau malah baru akan menentukan arah. Dan ketika ia hendak menentukan arah, kami atau kita yang akan menjadi nahkodanya, tidak ada lain. Mengulang bayang kejayaan tak berwarna, meruntuhkan segala kenyamanan, melumuri diri dengan asam garam dan pahit rasa. Mengguncang dan memaksa bumi melawan putarannya.
Selembar kayu berdiri dibeberapa sisi bangunan, setia menahan deru angin. Selembar kayu yang kini kosong, putih bersih tenang. Lebih indah rupanya ketika aku dan sehabat lainnya, memenuhi luas ruangnya dengan kotoran pikiran, dengan warna legam kehidupan.
Keadaan sepi, angin menderu menemani, namun entah mengapa lebih terasa seperti mengejek. Dan pilar penopang menyapa layaknya sahabat pena, lama tak bersua.
“Sahabat, ingatkah kau, kita dan lainnya pernah bersama menyandarkan tubuh yang lelah dan penuh peluh, mengitari pilar-pilar ini, menelurkan apa yang dengan gagahnya kita sebut sebagai revolusi?
“Pikirku berkelana, dan kalian hilang satu per satu, hingga tersisa pilar ini yang mulai terlihat senja.
Sekali mata ditarik ke arahnya, hati berdesir, dan aku terus berucap, mengharap pilar itu berbicara, memanggil pulang semua sahabat. Masa ini semua yang hidup beradu punggung, berlawanan mata, raga dan pikir asyik mendunia sendiri, dan gemuruh zaman menyertai. Tangan dan mulut terkunci, sapaan menjadi sesuatu yang teramat mahal harganya. Aku terus mengikuti jejak lalu itu. Terus meletakkannya diantara kini dan dahulu, mencari-cari beda.
“Waktu tanpa ampun mendorong kita sampai pada titik dan garis ini, melangkah melewati batas merah jambu dan hitam, waktu memang jahanam…” terus menguap seluruh rasaku, membanting waktu yang hanya sesekali terkejar. Pertanyaan dan derasnya kalimatku kini tak berbalas, sepertinya sahabatku juga mengendapkan seluruh rasanya.
Berkeliling dia di bangunan ini, tajam meraba setiap canda, tawa, amarah, dan caci maki pujian yang telah menjadi udara. Secuil wanginya masih tertinggal, tidak akan pernah terhapus oleh sengat wangi kekinian.
“Kawan, entah kenapa muncul kebencian yang amat sangat terhadap seluruh yang aku pandang saat ini. Semua menumbuhkan benih dan rasa muak.” Dengan sangat tenang sahabatku melepas jeratannya. Hanya mampu tersenyum aku, tidak berbeda. Aku pandang dia, kemudian beralih kepada benda-benda mati di sekujur bangunan ini.
Pilar-pilar itu, lantai dan pagarnya, serta kumpulan tumbuh-tumbuhan hijau seakan tersenyum, menyambut dengan tulus setiap kenangan yang hadir. Bahwa yang hidup dan yang mati akan selalu memberi peringatan, membangkitkan kematian pikir.
Mereka dan dunia belum detiknya kita tinggal,
wahai seluruh sahabatku tersayang,
pulang dan kembalilah…
“Bagaimana kelanjutan dan akhir goresan penamu nak?” Susunan kata itu tidak hentinya memekak, menemani telinga, ketika aku pada jeda waktu berada di beranda rumah. Dan selalu mengaum layaknya singa siap menerkam, ketika aku berada jauh di seberang melanjutkan goresan itu.
Itu suara ibu, dan aku hampir selalu, hanya membalasnya dengan keyakinan semu. Keyakinan berbalut kata dan kalimat madu, tidak sanggup meruntuhkan harga diri. Aku yakin ibu telah memahaminya. Dan saat aku menemukan matanya, ibu selalu membalas dengan sangat megah, sesederhana senyum lembut dan anggukan manis kepalanya, ditemani mata yang berkerdip pelan dan sayu, seluruh itu diselimutinya dengan hembusan nafas. Tidak sama sekali membuat hati bergidik, ataupun memekakkan telinga. Namun jauh lebih dari itu, luluh lantah harga diriku dibuatnya, nyawa bersembunyi dan tak berdaya. Bagiku dosa yang berulang terus hingga aku tiba pada titik dan garis ini. Pada keyakinan yang sesungguhnya nyata.
Masa-masa ini, aku sedang berada di seberang tempatku berpijak, tempat di mana aku mengais pemahaman tentang apapun itu, tentang segala. Tempat kehidupan, untuk menghidupi dan menghidupkan. Sejenak aku tinggalkan ibu yang mungkin berair mata, ayah yang selalu berpeluh di tengah terik, dan batu asalku yang semakin berdebu tergerus zaman. Sesekali mereka semua membelai lembut pikiranku, dengan perlahan membuat rindu menyentuh hati dan tak jarang diakhiri dengan air mata pula.
“Apa ini detiknya, untuk kita terbang menjauhi dunia?” tanyaku pada seorang sahabat. Ia menjawab, seakan telah memahami semuanya, membaca jalan pikirku. “Aku sedikit paham dan sedikit pula mengenal dirimu, sepertinya munafik layak untuk dilenyapkan,” katanya. “Simpanlah kalimat tanya tidak berguna itu, aku pikir ini belum detiknya.” Kata per katanya coba aku cerna, aku sesakkan dalam otakku.
Sahabatku ini memang belum pada sampainya, selangkah lagi ia harus berjalan. Satu langkah dengan beban seberat gerbong kereta menggelayuti kakinya, persis dengan apa yang aku lalui dahulu. Pun aku anggap, dia bukan tanpa arti. Kata manusia ‘asam garam dunia’, telah lebih banyak ia menelannya, diendapkannya dalam pikir. Dia berkata ini bukan detiknya.
Ya, asam garam dunia, telah berjuta manusia menyelaminya. Dia merasuk hanya bagi manusia yang menghendaki. Luka akan terasa sangat perih karenanya, namun kesembuhan dan pengetahuan baginya bukan hal yang sulit. Dan pertanyaanku itu meluncur ketika aku tiba pada titik dan garis ini. Aku hendak melambaikan tangan untuk mereka yang hanya berkenan mengecap manis pada bibirnya. Asam garam, atau bahkan pahit tidak pernah singgah menyambangi rasa mereka. Menurut sahabatku, kami masih harus membanjiri mereka dengan asam garam dan pahit itu. Menurut sahabatku, itulah wujud pertanggungjawaban kami yang telah menang langkah.
Mencoba menelusur celah-celah kecil dalam otakku, seluruh kejadian dan hal yang tak berwarna memenuhinya. Hati berdesir juga, raga terseret jauh merasa kejayaan masih digenggam jemari. Aku, sahabatku dan lainnya yang sama rendah, memaksa bumi melawan balik putarannya. Mereka dalam setangkup kecil itu berguncang hebat oleh karena nyali dan pemikiran kami. Tidak jarang kami mencerca diri ketika waktu terlalu berkuasa membuai menipu mata. Dan kemudian di luar sana, manusia-manusia yang menangis juga tertindas terus menanti menjulurkan tangan di hadapan mata. Kami yakin cairan otak kami yang menjalar menuju tubuh tidak lain jawaban bagi penantian itu. Senyum tipis mengembang dalam wajahku, tersadar aku, saat ini seluruhnya itu tidak lebih dari benda dan bayang tak berwarna. Namun akan selalu bermakna jika kami membanjiri mereka yang hendak kami tinggalkan, seperti ujar sahabatku.
Selepas jeda waktu ini, aku dan sahabat lainnya yang berpijak pada batu yang sama, ditarik kembali memikirkan mereka. Harus aku akui, hal ini juga yang membuatku merasa melakukan dosa yang terus berulang. Yang membuat ibu selalu menipu diri dengan kelembutannya. Dan kami bercakap seperti semuanya baik-baik saja. Hal ini yang menurut sahabatku, dan aku akhirnya setengah meyakini, harus kami tempuh, kembali.
“Wahai sahabat, apa mereka harus dibanjiri, dan bukankah mereka yang harus melumuri tubuh dan otak mereka sendiri?” luncuran kalimatku kembali menggugat, di mana diri butuh penyangga.
“Aku pikir, tidak akan pernah bisa mulut sampai langsung dihadapan telinga kawan, selain manusia lain yang dengan tulus meletakkan mulutnya di telinga kita, dan berteriak,” jawabannya membuat pikir selalu dipaksa bekerja, menarik makna, memecah analogi.
“Terkecuali kata-kata, dia bisa tiba di telinga, dan jauh panggang dari api jadinya ketika mereka tidak bisa mendengar hati mereka sendiri,” ditutupnya pertanyaanku.
Beribu suku kata yang bersatu dalam kalimat menjadi sebuah buku, menyertai sepotong cerita petang itu. Di sudut lain ruangan, sahabatku tajam melucuti surat kabar yang dibacanya. Sekarang aku benar-benar memantapkan diri meyakini, dunia belum detiknya ku tinggal. Peduli setan mereka bilang kami jumawa, atau lupa diri, mereka yang menasehati dengan mencerca namun tanpa terlihat mata.
Karena begitulah, setangkup kecil yang kami diami ini terlalu apatis dari jerit dan keadaan. Namun rasanya amat sangat terlalu skeptis memandang tulus dan kebaikan. Semua begitu nyaman, begitu damai, sementara nafas tak leluasa, dan semampai melenggang di atas api yang bertambah membara panasnya, perlahan membakar. Tak tahu ke mana arah setangkup ini, terapung di dalam kenyamanan, atau malah baru akan menentukan arah. Dan ketika ia hendak menentukan arah, kami atau kita yang akan menjadi nahkodanya, tidak ada lain. Mengulang bayang kejayaan tak berwarna, meruntuhkan segala kenyamanan, melumuri diri dengan asam garam dan pahit rasa. Mengguncang dan memaksa bumi melawan putarannya.
***
Menuju kami ke arah bangunan itu, ditemani angin malam yang memang selalu menari di tengahnya. Sebuah bangunan terbuka yang aku gambarkan lebih seperti peron kereta api. Kursi berjejer tak karuan saling beradu punggung, dijaga benda itu oleh beberapa pilar penopang.Selembar kayu berdiri dibeberapa sisi bangunan, setia menahan deru angin. Selembar kayu yang kini kosong, putih bersih tenang. Lebih indah rupanya ketika aku dan sehabat lainnya, memenuhi luas ruangnya dengan kotoran pikiran, dengan warna legam kehidupan.
Keadaan sepi, angin menderu menemani, namun entah mengapa lebih terasa seperti mengejek. Dan pilar penopang menyapa layaknya sahabat pena, lama tak bersua.
“Sahabat, ingatkah kau, kita dan lainnya pernah bersama menyandarkan tubuh yang lelah dan penuh peluh, mengitari pilar-pilar ini, menelurkan apa yang dengan gagahnya kita sebut sebagai revolusi?
“Pikirku berkelana, dan kalian hilang satu per satu, hingga tersisa pilar ini yang mulai terlihat senja.
Sekali mata ditarik ke arahnya, hati berdesir, dan aku terus berucap, mengharap pilar itu berbicara, memanggil pulang semua sahabat. Masa ini semua yang hidup beradu punggung, berlawanan mata, raga dan pikir asyik mendunia sendiri, dan gemuruh zaman menyertai. Tangan dan mulut terkunci, sapaan menjadi sesuatu yang teramat mahal harganya. Aku terus mengikuti jejak lalu itu. Terus meletakkannya diantara kini dan dahulu, mencari-cari beda.
“Waktu tanpa ampun mendorong kita sampai pada titik dan garis ini, melangkah melewati batas merah jambu dan hitam, waktu memang jahanam…” terus menguap seluruh rasaku, membanting waktu yang hanya sesekali terkejar. Pertanyaan dan derasnya kalimatku kini tak berbalas, sepertinya sahabatku juga mengendapkan seluruh rasanya.
Berkeliling dia di bangunan ini, tajam meraba setiap canda, tawa, amarah, dan caci maki pujian yang telah menjadi udara. Secuil wanginya masih tertinggal, tidak akan pernah terhapus oleh sengat wangi kekinian.
“Kawan, entah kenapa muncul kebencian yang amat sangat terhadap seluruh yang aku pandang saat ini. Semua menumbuhkan benih dan rasa muak.” Dengan sangat tenang sahabatku melepas jeratannya. Hanya mampu tersenyum aku, tidak berbeda. Aku pandang dia, kemudian beralih kepada benda-benda mati di sekujur bangunan ini.
Pilar-pilar itu, lantai dan pagarnya, serta kumpulan tumbuh-tumbuhan hijau seakan tersenyum, menyambut dengan tulus setiap kenangan yang hadir. Bahwa yang hidup dan yang mati akan selalu memberi peringatan, membangkitkan kematian pikir.
Mereka dan dunia belum detiknya kita tinggal,
wahai seluruh sahabatku tersayang,
pulang dan kembalilah…


0 Comments:
Post a Comment