Panas terik matahari dan kucuran keringat tidak mengurangi lincah gerak kaki mereka. Bunyi kenong dan gong yang berirama mengiringi para penari itu beraksi di persimpangan jalan. Ya, mereka adalah penari jatilan yang hampir selalu kita saksikan dibeberapa persimpangan jalan Kota Yogyakarta.
Sudah satu tahun belakangan ini Wahyudi (32th), Suradi (22th), dan Sarwidi (19th) menggeluti pekerjaan yang tidak biasa dilakukan oleh banyak orang: Penari Jatilan Jalanan. Wahyudi, dan Sarwidi sebagai penarinya, sedangkan Suradi menjadi pengiring, menabuh gong dan kenong, berirama. Ketiganya berasal dari Desa Bojonegoro, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Tuntutan kebutuhan hidup yang semakin tinggi menjadi penyebab mereka bertiga datang ke Yogyakarta. “Di kampung (Bojonegoro) terbatas, cuma bertani tembakau, hasilnya nggak cukup,” ujar Suradi menjelaskan. Meski sedikit lebih baik, namun penghasilan mereka dari menari masih saja tidak tentu. Menurut Wahyudi, jika jalanan ramai mereka bisa mendapatkan Rp 300.000 per hari. Sebaliknya jika sepi, uang yang terkumpul hanya sekitar Rp 100.000-150.000. “Kalau (penghasilan) bersih ya sekitar 30 ribu per orang per hari,” jelas Wahyudi.
Di Yogyakarta sendiri, mereka menempati kamar petak berukuran 3x4 meter di kawasan Terminal Giwangan. Setiap harinya, persiapan turun ke jalan dimulai dari jam 5 pagi. Setelah shalat subuh, mereka langsung mempersiapkan peralatan, termasuk mendandani wajah masing-masing personil. Sekitar pukul 7 pagi, mereka sampai di persimpangan jalan tempat beraksi. Berangkat pagi hari juga bertujuan agar tidak didahului oleh kelompok tari lainnya. Persimpangan Janti dan persimpangan Condong Catur Yogyakarta menjadi tempat favorit. Kedua persimpangan ini relatif ramai, dan cukup terjangkau dari tempat tinggal mereka.
Mungkin banyak orang beranggapan, tarian yang mereka lakukan hanya asal saja, tanpa makna. Padahal menurut Wahyudi, tarian Jatilan yang biasa mereka bawakan memiliki alur cerita. Diadopsi dari kisah yang diceritakan oleh Sunan Kalijaga, para penari berperan sebagai seorang ksatria berlatar peperangan jaman kerajaan, melawan para Gupala. Tariannya memiliki makna semangat juang yang tanpa putus. Makna yang juga menjadi kekuatan mereka untuk bertualang ke Yogyakarta, menari dari persimpangan jalan yang satu, berpindah ke persimpangan jalan lainnya: memenuhi kebutuhan hidup.


0 Comments:
Post a Comment