July 14, 2010

Mereposisi Musik Gamelan Dalam Pikiran

menjelang Yogyakarta Gamelan Festival ke 15...

Max Lorenz seorang seniman Austria membentuk grup Gamelan Altenberg di Austria sejak tahun 2002. Di Norwegia, Kelompok Gamelan Shokbreker dengan 6 personilnya tampil dengan memadukan musik tradisional Gamelan Indonesia dengan musik jazz kontemporer yang modern. Nada pentatonik Gamelan juga berpengaruh sangat besar terhadap komposisi grup musik mancanegara, diantaranya MEW (Denmark) dan Sigur Ros (Islandia). Pada September 2008, Gamelantron diciptakan oleh Taylor Kuffner warga negara AS, dan dimainkan secara otomatis oleh 117 lengan robot mekanik. Kabar paling baru datang dari komposer dunia, James Horner, yang menggunakan instrumen Gamelan sebagai dasar dari soundtrack film AVATAR, film pemenang Golden Globe Award 2010.

Ya, berbagai berita dan peristiwa di atas menjadikan Gamelan, instrumen musik tradisional Indonesia, seolah bukan lagi milik masyarakat Indonesia saja. Gamelan telah dilihat, didengar, dimainkan, dan kemudian dipelajari oleh berbagai bangsa di dunia. Ia telah jauh diadaptasi dan dikolaborasikan dengan berbagai jenis aliran musik populer, seperti rock, jazz, pop, orkestra, dan bahkan dijadikan salah satu instrumen dalam musik elektronik. Beberapa musisi dunia menjadikan Gamelan dengan nada pentatoniknya sebagai pengaruh yang cukup besar dalam komposisi karya-karyanya. Gamelan telah mendunia!!

Namun sayang, dunia sepertinya malah harus merasa prihatin. Di tempat asalnya sendiri, Indonesia, sangat sedikit musisi ataupun grup musik populer yang memadukan Gamelan dengan berbagai aliran musik yang diusungnya. Beberapa dari yang sedikit itu diantaranya Djaduk Feriyanto dengan Kua Etnika-nya, atau Dwiki Darmawan dengan band jazz etniknya, Krakatau. Hal ini berbanding sejajar dengan mereka yang mempertahankan Gamelan tetap pada keasliannya: semakin berkurang, meski masih ada. Pun Gamelan terdengar hanya dalam momen tertentu saja sehingga terkesan langka. Gamelan seakan tidak mendapat tempat dalam musik populer Indonesia, namun sebaliknya, dia selalu mendapat tempat dalam pola pikir kreatif musisi-musisi dunia.


Kalimat terakhir di atas mungkin terlalu sinis, mungkin saja musik Gamelan di Indonesia hanya kurang mendapat perhatian. Maka mulailah dengan memberikan perhatian kecil yang konsisten datang dari semua pihak. Mungkin juga masyarakat Indonesia, terlebih generasi muda, tidak terbiasa mendengarkan alunan Gamelan di telinganya, maka koleksi dan dengarlah musik Gamelan, meski hanya sedikit dan sebentar. Atau mungkin, para musisi Gamelan Indonesia perlu mengembangkan pola pikir yang radikal-kreatif, berani memaksa dirinya sendiri dan Gamelan untuk keluar dari zona nyaman. Beradaptasi-padu dengan perkembangan musik Indonesia dan dunia. Termasuk para musisi populer dan industri musik Indonesia, harus berani melirik Gamelan sebagai tantangan sekaligus peluang untuk menciptakan musik yang baru, memadukannya dengan alat-alat musik modern, tidak semata memikirkan profit dan pasar. Semua yang di atas mungkin dirasakan dan dipikirkan oleh banyak pihak, termasuk menjadi kegelisahan generasi muda yang mungkin lagi, hanya segelintir.


other photo at ayutasahaya.multiply.com

Apapun kemungkinannya, kita tetap tidak bisa mengelak, tidak bisa mentolerir, bahwa kita sebagai bangsa dan generasi muda Indonesia tahu apa itu Gamelan, tapi sepertinya belum paham benar bagaimana musik tradisional seperti Gamelan harus dikembangkan. Juga bagaimana untuk tidak terlebih dahulu mengungkungnya dalam pikiran kita, pada ruang gerak yang bernama ‘kuno’, ’jadul’, ‘basi’, ‘mistis’, dan sebagainya. Berbagai pertanyaan dan kemungkinan di atas, perlu dipastikan dengan gerak bersama yang melibatkan seluruh komponen masyarakat Indonesia: gerakan sosial untuk kebudayaan.

Pengalaman yang lalu mengajarkan kita untuk memberikan perhatian lebih terhadap budaya tradisional bangsa. Klaim kepemilikan negara-negara tetangga terhadap tari Pendet dari Bali, lagu-lagu dan kesenian daerah lainnya, memunculkan amarah masyarakat Indonesia. Media massa ramai memberitakan kala itu. Para pakar dan pemerhati budaya berteriak lantang memberikan penilaian terhadapnya. Namun setelah kasus itu selesai, setiap orang kembali pada aktivitasnya, sepertinya selesai pula perhatian masyarakat terhadap budaya tradisional, menghilang sama sekali. Maka jangan heran bila esok hari Gamelan menjadi musik yang asing karena jauh lebih mendapat perhatian dari bangsa lain.

Maka sebuah gerakan kecil yang mencoba konsisten terhadap eksistensi musik Gamelan datang dari Kota Yogyakarta. Memasuki umurnya yang ke 15, Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), nama perhelatan itu, selalu menghadirkan musik Gamelan mulai dari bentuk asli, sampai dengan kolaborasi dan evolusinya kebentuk yang lain. Yogyakarta Gamelan Festival mencoba menghormati dan mengakomodir ‘dulu’ dan ‘kini’, serta mengundang semua musisi dari dalam dan luar negeri. Di tahun ini, YGF berlangsung pada tanggal 16-18 Juli 2010 dan mengusung tema ‘Gamelan Anytime’. Tema yang juga mempertegas bahwa Gamelan tidak tertinggal, Gamelan tidak kuno, dan mengikuti juga arus perkembangan musik dunia. YGF menunjukkan apa yang dapat diperbuat Gamelan saat ini yang tidak mungkin menghilangkan bentuk aslinya.

Lalu dikemudian hari, ingin rasanya mendengar Gamelan atau musik tradisional lainnya, berpadu dengan musik populer yang diusung oleh musisi dan grup musik papan atas Indonesia. Ingin rasanya, mendengar rock alternatif-nya Padi, melayu-nya ST12, elektronik-nya Nidji, jazz-nya Mocca, seriosa-nya Gita Gutawa, atau pop-nya D’Masiv, berpadu dengan alunan denting Gamelan. Ingin rasanya, melihat dan mendengar Gamelan masuk dalam top chart musik di Indonesia dan dunia. Ingin rasanya, untuk bisa berlatih dan memainkan Gamelan, di mana saja dan kapan saja. Kini saatnya, melihat dan mendengar Gamelan dari hasil kreatifitas generasi muda Indonesia sendiri dengan tetap memahami dan berpegang pada asal muasal bentuk asli dari musik Gamelan. Bagaimana, bisa? Pasti!

0 Comments: