August 29, 2010

Menemukan Awal Mula

Kata orang, banyak orang, bilang, semua hal yang besar bermula dari awal yang kecil. Semacam berdeduksi. Aku merasakan ini beberapa minggu yang lalu sampai pada hari ini. Bermula dari keprihatinan, atau rasa gemas lebih tepatnya, pada kegiatan organisasi mahasiswa di kampus: hidup segan mati tak mau. Akhirnya bertemu kembali dengan kawan-kawan lama: Hendy, Duala, Aring, Thomas, dan Ade; termasuk satu kawan lama yang baru kenal: Ian. Aku rasa semuanya punya keprihatinan yang sama, meski masalah tetap berbeda satu dengan lainnya.

Semua telah ada pada satu titik, dibutuhkan kegiatan, gerakan, apapun itu. Kami tidak lagi mempedulikan apa kata orang: sirik dan sanjungan atau cibiran. Aku sendiri mulai merasa, membuat suatu kegiatan di kampus yang menurutku hampa, jangan pernah berpikir hasil atau efek yang datang kemudian. Bahwa yang terpenting, lakukan dulu, berproseslah dulu: hasil adalah relatif.

Semangat ini yang kemudian memunculkan ide untuk membuat perpustakaan kecil di kampus, menggiatkan membaca. Isi bukunya tentu mengakomodasi judul-judul apa saja yang tidak ada di perpustakaan kampus: novel, roman, majalah, sampai komik. Keinginan membaca memang menjadi sorotan kami, mungkin sudah sampai pada titik nadir, termasuk kami sendiri. Buku mulai dikumpulkan dari teman-teman yang rela membagi pengetahuannya. Aku sendiri menyumbang, meski tidak banyak.

Jumat lalu, perpus kecil itu ditutup, memang sengaja dibentuk sebagai kegiatan yang: 'kalau mau dibikin, ayo; kalau tidak, ya tidak apa-apa'. Sulit memang memaksa diri untuk terus konsisten pada satu hal, tapi paling tidak, awal yang kecil tadi sudah bermula. Dari perpus kecil itu, yang meminjam buku dan memberi perhatian ternyata cukup banyak. Meski hanya sekedar bertanya sambil lalu, tak apa lah, kami ingin memiliki peran. Ini berkaca pula pada curhat seorang adik angkatan ketika hendak membuat suatu acara organisasi. "Sulit, orang-orangnya pada menghilang, judulnya rapat akbar, yang datang hanya 20 orang," katanya.

Aku katakan padanya, tidak penting sekarang memikirkan jumlah orang yang ada, berjalanlah dengan apa yang ada. Buat acara dan kegiatan dengan teman-teman yang memang serius menggarapnya. Sesuaikan saja acara dengan melihat kemampuan organisasi, karena sekecil apapun kegiatannya, itu menunjukkan keberadaan organisasi sebagai wadah kegiatan teman-teman mahasiswa. Selanjutnya aku semangati dia, agar pantang menyerah, dan jangan patah arang.

Beberapa hari kemarin, kami menggagas pula forum komunikasi antar pers mahasiswa di kampus. Suatu hal yang selama aku hidup di kampus, tidak pernah dilakukan. Sedikit terlambat memang, dari pada tidak pernah sama sekali. Pertemuan itu pun direspon cukup baik, banyak persma di kampus, dari fakultas lain, yang sama sekali tidak terdeteksi, baru diketahui ketika ada pertemuan tersebut. Di dalamnya kami bercerita lebih banyak kesulitan dan halangan, bahkan ada pula yang meminta saran, karena baru mau menggagas lahirnya persma: baik, kami mendukung.

Forum itu memang dibentuk cair, disepakati hanya berdasar pada kepedulian, kebutuhan, dan keprihatinan teman-teman persma terhadap keberadaan organisasinya sendiri. Di situ kami sepakat, untuk saling memberikan apresiasi dan perhatian pada sesama persma. Persahabatan antar persma ini bisa juga menjadi salah satu media yang punya pengaruh besar pada dinamika kampus. Satu hal kecil lagi, sudah menemukan awal mulanya.

Hal yang paling kecil dari hidup ini pasti memiliki dan menjadi bekas dalam memori. Kami mencoba menyelipkan dalam memori itu, bahwa kita pernah bertemu, membicarakan kegelisahan, keprihatian, rasa gemas, dan merancang satu-dua kegiatan. Merancang yang kecil, tanpa berpikir hasil dan efeknya. Meyakini disuatu saat, awal mula yang kecil itu, selalu dan bertambah besar, tanpa ada 'titik'.

0 Comments: