Pikir jauh tertarik pada suatu masa, suatu sore beberapa hari sebelum tahun 2008 menghembuskan nafasnya...
Dimulai dengan, pada suatu hari...
Ayahku memiliki sebuah usaha, tepatnya usaha primer ayahku. Sebuah rumah makan di tepi laut, utara kota Tangerang. Ketika hari Natal yang lalu, Desember 2008, aku pulang ke Tangerang (biasanya selalu merayakan di Yogyakarta, bersama teman-teman). Berhubung sudah di ultimatum dan harus pulang, pulanglah aku ke tempat kelahiran. Di Tangerang, aku selalu mengunjungi tempat usaha ayahku itu, untuk sekedar menginap dan bantu-bantu sedikit melayani para pengunjung. Kira-kira tanggal 22 Desember 2008, aku ada di sana sampai sore hari 23 Desember 2008. Hari itu cukup ramai mengingat sudah mulai beranjak libur anak-anak sekolah, juga mungkin dikarenakan tidak ada lain tempat wisata di wilayah Tangerang selain seribu Mall dan pusat perbelanjaan. Maklum, kota industri, cukup menjemukan. Setelah menghabiskan satu malam di sana, pulang aku ke rumah, tidak sabar bertemu sanak keluarga yang lain.
Nah, ini inti ceritanya. Pada saat pulang, aku naik angkutan kota (angkot), sejenis mobil colt atau minibus. Angkot ini full musik, beberapa artis pop ibukota terdengar suaranya. Ungu, ADA Band, ST12, D'Massiv, di antaranya. Kebetulan sore hari, dan aku hanya sendiri di mobil itu. Beberapa menit berjalan, angkot tiba di depan salah satu sekolah di daerah Kampung Melayu, Tangerang. Kalau tidak salah lihat, merk sekolahnya, SDN 1 Kampung Melayu. Menunggu si sopir di pinggir jalan, menanti penumpang. Menit demi menit terlalui dengan menunggu, hal yang mungkin dirasa oleh beberapa orang sebagai sesuatu yang menjengkelkan. Apalagi ketika kita butuh waktu cepat, dan sangat terburu-buru. Kali ini aku cukup menikmati, karena tidak terburu-buru juga. Mungkin para penumpang yang sekiranya mengalami hal yang sama, perlu mengarahkan pikir di mana ketika kita menjadi si supir, yang butuh uang untuk disetorkan, memikirkan pula anak istri di rumah..hehee..tidak berlebihan bukan?
Para penumpang yang ditunggu datang juga. Siapa mereka?? Ternyata sekelompok bocah-bocah SD tersebut, SDN 1 Kampung Melayu, Tangerang. Riuh ocehan mereka menggema di dalam angkutan ini. "Ayo dek..naik...masih kosong..cepet..cepet!!!" teriak si supir dengan bersemangat. "Woy, ayo cepet, dih lama banget elu mah!!" salah satu anak menyuruh temannya untuk naik, dengan logat pesisir utara Jakarta atau Tangerang, tersenyum kecut juga aku mendengarnya, lucu. Tidak lama, angkot itu penuh oleh anak-anak sekolah dasar. Ribut mereka membicarakan segala hal yang mereka alami hari ini. Diam-diam aku mendengarkan topik pembicaraannya, karena tidak punya lawan bicara.
"Coba liat rapot elu!" kata seorang anak kepada lainnya. Baru aku paham, ternyata hari ini adalah hari pengambilan hasil akhir pembelajaran atau rapor. Teringat juga, waktu masih SD dulu, setidaknya ada seseorang yang mendampingiku untuk mengambil rapor, biasanya salah satu, ayah atau ibu. Tapi hari ini, aku lihat di dalam angkot, tidak ada satupun orang dewasa yang mendampingi mereka, anak-anak ini mengambil rapornya sendiri. Ramai jadinya mobil ini, ocehan anak-anak SD menilai hasil teman-temannya sendiri. Aku hanya bisa tersenyum, diri serasa ditarik lagi ke masa kecil, ketika jantung berdebar cepat, menanti hasil akhir belajar.
Angkot terus berjalan menyusur, menuju wilayah Tangerang Kota. Tiba-tiba, telinga menangkap satu lagu. "...mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya. Laskar pelangi..." Ya, Laskar Pelangi, salah satu lagu yang dibawakan oleh grup musik Nidji. Siapa tak kenal? Original Soundtrack sebuah film dengan judul yang sama, diangkat dari sebuah novel inspiratif karya Andreas Hirata. Lagu ini terus memenuhi dinding angkot, menyamai cericau seru anak-anak SD.
Entah kenapa seperti ada rasa berbeda petang ini. Sekumpulan anak SD yang baru mengambil rapornya ditemani dengan lagu inspiratif Laskar Pelangi, benar-benar membuat hati berdesir. Aku kembali tersenyum, membayangkan anak-anak SD ini yang juga tersenyum lepas menjadi generasi penerus Nusantara, menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Akan terjadi apabila mereka dapat menempuh seterusnya pendidikan mereka. Ada kecocokan di sini, lagu dan film Laskar Pelangi yang mengisahkan mimpi anak-anak Indonesia untuk terus belajar, berkembang, memahami dunia, mengiringi langkah anak-anak SDN 1 Kampung Melayu di dalam angkot bercericau tentang hasil belajar mereka.
Kejadian petang ini membuat pikir berkaca pada dunia pendidikan Indonesia sekarang. Pendidikan pun bukan hal yang mudah didapat, bukan suatu hal yang murah. Masih berjuta anak Indonesia yang belum mengecap dunia pendidikan. Masih berjuta rakyat ada di bawah garis kemiskinan. Sementara anak-anak Indonesia itu masih terus bermimpi, dan Indonesia masih terus mencari pemimpinnya, kita yang berada jauh di atas si miskin menjadi semakin tidak peduli.
Satu persatu anak-anak SDN 1 kampung Melayu Tangerang turun, tiba ditujuannya. Lagu Laskar Pelangi pun habis terdengar. Aku kembali sendiri di angkutan ini, memandang petang dan tersenyum kecil membayangkan senyum cerah anak-anak SD tadi, anak-anak dari Ibu Pertiwi, Indonesia...
January 26, 2009
Anak-anak SDN 1 Kampung Melayu Tangerang
Berkelana Di Hari Ini
Senin 26 Januari 2009, tahun baru Cina atau Imlek 2560 ini tanpa disengaja bertepatan dengan hari ulang tahunku..hehee... Seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu merayakan, menghadapi, dan meniup lilin ulang tahun dari mulutku sendiri, tanpa tepuk dan jabat tangan dari orang lain. Malah ditahun kemarin, harus merayakan hari jadi di dalam kereta ekonomi jurusan Jakarta-Jogja...yah, maklum, sedang berusaha menambah panjang nama dengan kata S.Sos...
Intinya tidak ada yang spesial menginjak 22 tahun umurku. Kata orang sih, itu sudah saatnya seorang laki-laki beranjak dewasa. Mungkin juga karena tidak ada yang spesial itu tadi, hari ini malah terasa spesial, merayakan dengan keheningan, senyap.
Beralih topik, kira-kira jam 8 pagi ini, aku berputar-putar mengelilingi sebagian wilayah Jogja. Berangkat dari Babarsari, menelusur Jl. Laksda Adi Sucipto, sampai di Tugu Jogja, kemudian ke selatan menembus Jl. P. Mangkubumi menuju Jl. Pasar Kembang. Aneh, sama sekali tidak terasa hawa perayaan Imlek tahun ini. Hanya jalan yang sepi, pun aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa. Niatku ingin mencari peristiwa untuk ditulis, daripada merayakan sendiri hari jadiku. Berpikir, apa aku yang kelewat siang, sehingga melewatkan perayaan atau pawai jalanan yang biasa ada ketika hari raya Imlek.
Sampai di Jl. RE Martadinata dan K.H Ahmad Dahlan, yang membujur dari barat ke timur menuju perempatan kantor pos besar Yogyakarta. Wah, ada iringan anak-anak kecil berbaju layaknya seorang karateka dengan warna merah kuning. Dengan cukup bersemangat akhirnya yang ditunggu datang juga. Semakin memperhatikan pawai itu, dan usut punya usut, di panji-panji bendera yang mereka bawa, bertuliskan "Tapak Suci Muhammadiyah". Hati menjadi lesu, niat pun aku urungkan. Namun terbersit juga di dalam pikir, semoga mereka yang masih kecil dan akan beranjak dewasa semakin menghargai perbedaan, dan semoga iring-iringan ini menandai semakin derasnya rasa toleransi dan menghormati antara kita manusia. Senyum di bibir pun aku sunggingkan, hati menjadi bangga.
Menuju aku ke arah Klenteng Gondomanan yang bernama asli Vihara Budha Praba. Pun keadaan sepi, memang kepulan asap yang mungkin berasal dari hio atau abu yang dibakar terlihat dari luar Klenteng. Sepertinya perayaan sudah berakhir, dan sepertinya lagi, benar, aku yang terlambat datang.
Satu Klenteng lagi yang hendak aku kunjungi, Klenteng Kranggan yang terletak di Jl. Poncowinatan, Yogyakarta. Klenteng yang dulu pernah terancam keberadaannya karena pembangunan sekolah Budya Wacana. Sekolah itu sekarang terletak persis di belakangnya. Klenteng yang satu ini memang dibalut oleh keramaian setiap harinya, keramaian pasar Kranggan. Aku lirikkan mata ke arahnya ketika menelusur jalan. Halaman depannya penuh oleh kendaraan bermotor yang parkir. Asap putih memenuhi ruang dalamnya. Keadaan tidak jauh berbeda dengan Klenteng Gondomanan, cukup sepi. Naluri jurnalistikku menurun, menyandarkan motor di halamannya pun tidak aku lakukan, akhirnya lewat begitu saja.
Sampai aku menulis catatan ini, kurang lebih telah satu setengah jam lewat aku habiskan berkeliling, tentu diiringi pikiran-pikiran nakal di jalanan. Seperti kita ketahui, di era presiden Abdurahman Wahid aka Gus Dur, Inpres No. 14 th. 1967 pada rezim Soeharto, yang melarang segala hal yang berbau Tionghoa, dicabut. Megawati Soekarnoputri sebagai presiden berikutnya menindaklanjuti dengan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden No. 19 th. 2002.
Aku pun berpikir, pantaslah Imlek tahun ini sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mungkin karena saudara kita warga Tionghoa tidak lagi butuh eksistensi. Eksistensi lewat pawai, iring-iringan, pertunjukkan barongsai, dsb. Mereka telah yakin diterima sebagai salah satu rumpun bangsa Indonesia. Mereka telah yakin, karena kita pun yakin mereka adalah tak terpisahkan sebagai satu tubuh, Indonesia. Jadinya kita sama-sama yakin, sebagai Indonesia. Atau malah sepi dari perayaan karena menurut mitologi, tahun ini adalah tahun kerbau, tahun dengan masa-masa sulit dan harus dihadapi dengan kerja keras. Oleh karena itu, Imlek lebih dirayakan dengan permenungan, dengan introspeksi diri pribadi demi memunculkan resolusi ke depannya, mungkin.
Yang pasti, aku pun layak memikirkan sebuah resolusi ke depan, mengingat umur yang sudah tidak muda lagi..hehee... Akhir kalimat ini tidak berakhir begitu saja, pikir dan tubuh harus terus berkelana, mencari sesuatu yang beda...selamat ulang tahun diriku!!! ^^
Drrtt...rrtttt...drrtttt...telepon selular bergetar, satu lagi ucapan 'selamat ulang tahun'...
terimakasih untuk kalian.....
January 24, 2009
Seminar Bersama Anand Khrisna
| Menuju Komunitas Multikultur Yang Humanis |
| Bersama: Anand Krishna |
Anand Krishna, membawa mahasiswa Atma Jaya yang berkumpul pada hari Sabtu 1 November 2008 di Auditorium Gedung Bonaventura Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi komunitas multikultur yang humanis. Dalam tema “Menuju Komunitas Multikultur Yang Dinamis”, Anand Krishna seorang tokoh spiritualis lintas agama, nasionalis, dan humanis memulai pembahasan kajiannya dengan terlebih dahulu mengkritik kawan-kawan mahasiswa karena berceloteh sendiri ketika Dibyo Prabowo selaku rektor UAJY membuka seminar pagi itu. Kritik pedas Anand Krishna kepada kawan kawan mahasiswa memang dibalut oleh sebuah cerita lucu, perumpamaan tentang sebuah iklan cetak bergambar mobil dan seorang wanita seksi.
Bahasa gambar itu diterjemahkan oleh Anand Krishna dengan bahasa lisan humor yang sedikit vulgar, dan ternyata hal itu malah menarik perhatian mahasiswa untuk mendengarkan. Sepertinya ini memang sedikit cara yang digunakan oleh Anand Krishna untuk menarik minat/atensi mahasiswa untuk dapat masuk ke dalam topik yang akan beliau bahas. Pagi itu perhatian mahasiswa mungkin juga tertuju pada pengap, panas, dan sesaknya ruangan yang penuh, ditambah matinya pendingin udara, dan tidak dibukanya jendela sebagai jalur keluar masuknya udara.
Kemudian kata-kata tentang pengertian budaya dari Ki Hadjar Dewantara beliau petik, masih melanjutkan kritiknya kepada kawan-kawan mahasiswa. Budaya merupakan kumpulan adat-adat yang unggul (Ki Hadjar Dewantara). “Kebiasaan yang baik dari seluruh nusantara, itulah budaya” lanjut Anand Krishna. Menurutnya lagi, budaya-budaya yang unggul tersebut yang patut dikembangkan, dan berceloteh sendiri ketika ada orang berbicara di depan bukan sama sekali budaya yang unggul, jadi jangan sampai dikembangkan. “Percuma jika kita ingin mempelajari multikultur jika kita tidak tahu mana adat-adat yang unggul yang bisa dikembangkan”, tutur Anand Krishna. Mahasiswa seperti terhenyak dan seketika langsung memperhatikan.
Multikultural sebagai nilai yang baik, jangan pula dilihat sebagai suatu yang absolut dan diterima sepenuhnya. Jangan hanya karena tuntutan dan dengan tameng multikultural, seseorang boleh bertindak sekenanya, tanpa memperhatikan nilai-nilai sosial yang berlaku pada suatu daerah atau budaya. “Semua harus ada ‘moment various’, nilai-nilai yang ada dimana-mana”, bahas beliau. Multikultural juga mengakui keberagaman budaya, oleh karena berbagai macam budaya tersebut, tentunya budaya yang unggul, harus dapat dihormati oleh setiap individu, agar tercipta suatu pemahaman kultural yang kemudian menimbulkan sisi humanisnya.
Indonesia dengan beragam budayanya erat terkait dengan sejarah masa lampau dan dengan beragam agama yang menyertainya. Ketika membahas masalah agama, Anand Krishna memberikan ‘acungan jempol’ kepada Atma Jaya yang telah menembus koridor atau sekat-sekat antar agama dalam sistem pembelajarannya. Bahwa yang lebih penting adalah mempelajari bagaimana hadirnya dan sejarah panjang agama secara umum. Tidak lagi yang beragama Hindu harus berada di ruang berbeda, yang beragama Islam kemudian disendirikan, atau kawan beragama Katolik harus kuliah di tempat berbeda, begitu seterusnya. Semua hal itu di mata seorang Anand Krishna telah berhasil dilebur oleh Atma Jaya ke dalam suatu sistem pembelajaran yang lebih dinamis dan humanis. Menurutnya, agama di Indonesia bukan murni ajaran dari agama itu sendiri. Cinta kasih adalah satu ajaran yang pasti ditekankan oleh setiap agama yang ada di Indonesia, inilah yang beliau tonjolkan. Sebuah nilai universal yang berada di balik semua ajaran dan tata cara yang dimiliki masing-masing agama. Permasalahan menjadi berbeda dan mungkin timbul ketika agama telah tercampur oleh tradisi atau budaya yang bukan berasal dari tempat di mana agama tersebut lahir.
Beliau mengambil contoh tentang kasus ‘Syeh Puji’ yang menikahi anak berumur 12 tahun. Hal ini merupakan adopsi dari budaya timur tengah tepatnya Iran yang mengeluarkan fatwa, bahwa ‘bila anak gadis sudah menstruasi, berarti dia sudah boleh di nikahi’. Menurutnya, mengakui perbedaan bukan berarti dapat membenarkan setiap adopsi budaya tanpa mempertimbangkan kondisi sosial dan nilai-nilai moral di mana ia berpijak. “Saya tidak bisa menerima hal-hal buruk dari budaya lain”, tegas Anand Krishna. Becermin pada beragamnya budaya dan adat istiadat asli (native).
RUU Pornografi yang telah disahkan, pun tidak lepas dari pembahasan. Undang-undang ini menurutnya juga merupakan representasi dari kebudayaan timur tengah, khususnya Arab. Ironisnya, orang-orang Arab justru tidak mempermasalahkan ketika seorang perempuan bertelanjang dada karena kepanasan (hal ini berarti terkait dengan konteksnya). Sejauh itu bukan istri saya, tidak menjadi masalah, kira-kira seperti itu kaca mata orang Arab memandang pornografi.
Anand Krishna membaca adanya kesalahan tafsir terhadap budaya dan tradisi, terkhusus tradisi timur tengah (Arab) dan agama Islam di Indonesia. Kesalahan terletak ketika dulu orang Indonesia memandang bahwa tradisi/budaya orang Arab adalah agama Islam (yang terbawa hingga kini). Berawal dari kerajaan Samudra Pasai yang dahulu adalah orang-orang kerajaan Sriwijaya yang berlayar dan berdagang ke Arab. Sekembalinya dari Arab, sebetulnya yang mereka kembangakan adalah budaya dan tradisi sosial masyarakat Arab, ini dibaca sebagai tafsir dari agama Islam, sampai sekarang. Kemudian efek domino dari itu semua, muncullah stigma, bahwa segala yang datang dari Arab dan timur tengah adalah Islam, dan yang datang dari barat dan eropa adalah Kristiani. Anand Krishna kemudian menilai ada yang perlu dibenahi dari kepala anak-anak Indonesia kelak. Bahwa pembelajaran tentang sejarah agama adalah penting dan perlu dipahami sejak dini, meminimalisir stigma dan chauvinisme agama yang berlebihan.
Ketika sesi tanya jawab di buka, yang menarik adalah ketika Anand Krishna menjawab pertanyaan tentang perkawinan campur dan suntik mati. Semua kembali kepada konteksnya masing-masing. Beliau mengatakan bahwa iman juga harus berjalan berkembang seiring dengan proses atau kemampuan intuisi kita. Dalam perkawinan campur, butuh banyak pertimbangan. Mengkaji ulang nilai kepentingan yang mempengaruhi keberadaannya tetap harus dipikirkan, ketika juga dikatakan bahwa perkawinan campur adalah cerminan dari Pancasila.
Hal sama berlaku pula dalam kasus suntik mati, prosedural medis juga harus mempertimbangkan kondisi atau keadaan pada saat itu. Suntik mati pun memiliki beberapa prasyarat untuk dapat dijadikan keputusan final. “Brain dead” atau kematian otak, ini salah satu pertimbangan, di mana suntik mati dapat dipilih. Kematian otak mematikan seluruh fungsi tubuh. Ketika diberi alat bantu nafas, tentu masih sanggup bernafas, namun tetap tidak ‘hidup’. Pertimbangan-pertimbangan humanis seperti ini yang mungkin mematahkan anggapan dari agama, bahwa melakukan suntik mati itu, adalah salah. Pada akhirnya semua keputusan harus berjalan mempertimbangkan setiap kondisi dan konteksnya, terhadap solusi-solusi terbaik serperti apa yang sekiranya dapat dipilih. Menyertakan juga dampak setiap keputusan yang diambil.
Menutup seminar dan pertemuan siang itu, Anand Krishna memiliki pemahaman, bahwa ketika masyarakat memiliki stigma negatif dan pesimis, serta tafsir yang salah terhadap agama, bukan berarti agama harus dihapus atau ditiadakan. Menurutnya penghapusan suatu agama hanya akan memunculkan agama baru, yaitu ‘atheis’. Pentingnya pembelajaran sejarah agama dari sejak dini seperti menjadi proyek utama dari seorang Anand Krishna dalam mencapai sebuah nilai universal di balik keberagaman itu semua. Love, Peace, and Harmony. Fin.
Dunia Di Luar Dunia
“...nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.”
Begitu kira-kira ungkapan seorang filsuf Yunani yang pernah membuat seorang Soe Hok Gie berpikir. Lalu siapa yang bisa meminta untuk tidak dilahirkan? Ketika telah lahir ke dunia dan telah melihat semua kesedihan yang terjadi di dunia, mungkin Aku dan banyak dari kalian di luar
Ketika kecil dulu Aku melewati detik-detik terindah dalam hidupku. Indah seakan tanpa beban, dan Kau tahu?? dunia ketika itu masih cerah berwarna-warni berputar mengelilingi otak dan tubuhku. Langkah ceriaku ringan berlari. Mungkin terlalu ringan, sampai-sampai Aku tidak bisa merasakan langkah kakiku sendiri. Aku serasa hidup di awan. Dunia ketika itu masih penuh dengan gelak tawaku dan teriakan sayang teman-temanku.
Ketika tubuhku semakin bertambah besar, langkah kakiku masih terasa ringan. Namun, mulai tumbuh benih-benih kebencianku terhadap dunia. Aku tidak tahu, kenapa cerahnya warna-warni dunia waktu sebelumnya sedikit memudar?? Dan Aku tidak suka hal itu. Ketika otakku semakin membesar, dunia pun ikut membesar, namun kenapa warna-warninya tidak ikut membesar?? Aku tidak tahu. Untungnya, Aku masih bisa mendengar gelak tawa dan teriakkan sayang teman-temanku sendiri.
Dunia semakin menghitam!!! Aku tidak suka hal ini, Aku mulai benci pada dunia. Dia semakin membesar di dalam otakku dan mulai membebani otakku dengan warna-warninya yang semakin memudar saja. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, dunia mulai terlalu menguasai pikiranku. Langkahku semakin berat dan menjadi gontai. Aku mulai bosan dengan dunia yang sekarang, Aku merindukan dunia yang dulu cerah berwarna-warni. Aku pun mulai tersedak dan tidak bisa berkata-kata. Aku tidak senang, Aku ingin duniaku yang dulu!!! Kemana teman-temanku?? Aku menjadi sedih, Aku tak berdaya!!! Aku benci dunia!!!
Dunia benar-benar terasa berat, dan entah kenapa wajahnya semakin muram dan bersedih. Kenapa Dia yang menjadi sedih!!? Seharusnya Aku!!! Dunialah yang membuatku seperti ini!!! Aku menjadi sangat benci kepada dunia!!! Dia semakin besar saja di otakku, semakin hitam pekat, dan terlalu banyak meneteskan air mata. Masa bodoh!!! Dia yang menyebabkan Aku seperti ini. Langkahku menjadi sangat berat, gelak tawa menjadi hilang, dan teriakkan sayang itu menjadi cemooh dan cacian. Aku benar-benar benci pada dunia!!!
Biar saja dunia semakin hitam dan terus menangis, Aku tidak peduli!!! Bahkan sampai Dia mati dan hancur dari otakku pun, Aku tidak peduli, masa bodoh!!! Aku masih bisa hidup walaupun dunia telah mati!!! Bahkan mungkin Aku akan menciptakan dunia yang baru yang sesuai dengan keinginanku!!! Aku akan menciptakan dunia baru dalam otakku. Dunia yang bebas yang selalu gemerlap dan berwarna-warni.
Selamat tinggal dunia, matilah dengan segala beban dan air mata yang terus Kau teteskan. Aku berharap tidak ada orang yang akan membantumu menyeka air mata itu. Dan Aku yakin tidak akan ada lagi orang yang mau mewarnaimu dengan warna-warna yang cerah, karena orang-orang itu juga telah mati otaknya. Kau akan terus hitam, kelam dan membusuk!!!
January 08, 2009
Analisis Program Metro Files
Anatomi program
Nama Program : METRO FILES
Genre : Program dokumeter sejarah
Stasiun : METRO TV
Hari Tayang : Minggu
Waktu Tayang : 20.05 – 21.00 WIB
Pembawa Acara : - (narasi)
Deskripsi Program
METRO FILES merupakan program acara dokumenter yang memfokuskan diri pada suatu peristiwa bersejarah, seorang tokoh bersejarah, atau seorang tokoh bersejarah dalam peristiwa yang bersejarah pula. Metro Files is a documentary that dissects on affair which occurred in history. An affair that is hidden, controversial, dramatic and breathtaking. Other strength points, Metro Files also presents archive footages that many have not witnessed.[1]
Latar Belakang
Menurut survey yang dilakukan oleh Yayasan Science dan Estetika, Ikatan Jurnalis Televisi
Dengan fungsi pendidikannya, sepertinya wajar ketika televisi dan media
Bangsa
Menilik fungsi pendidikan pada televisi, cukup menarik membaca peranan televisi saat ini. Bagaimana (perusahaan) televisi lewat program tayangannya memunculkan konsep nation building sebagai media pembelajaran dan pemersatu masyarakatnya di tengah kondisi krisis seperti sekarang ini. Nation building yang di dalamnya didukung kembali oleh banyak faktor dan aspek-aspek lainnya. Nation building yang selalu berjalan dinamis sebagai sebuah proses dan tujuan serta pembelajaran suatu bangsa,
Rumusan Masalah
Bagaimana program acara “METRO FILES” yang diproduksi oleh METRO TV menyampaikan konsep nation building dalam setiap edisinya?
Kerangka Teori
Prof. Carolyn Stephenson dalam tulisannya tentang nation building, menganggap definisi nation building sangat normatif dan konstekstual. Menurut perspektifnya, “The latest conceptualization is essentially that nation-building programs are those in which dysfunctional or unstable or "failed states" or economies are given assistance in the development of governmental infrastructure, civil society, dispute resolution mechanisms, as well as economic assistance, in order to increase stability.”[4]
Sementara itu menurut Edi Sudradjat dalam buku kajian Lemhannas, nation building merupakan segala usaha dan daya upaya yang dilakukan secara terpadu oleh seluruh rakyat dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya, mencapai tingkat kehidupan bangsa yang lebih baik sebagaimana dicita-citakan (Edi Sudradjat 1982: 4). Nation building sebagai sebuah konsep berkaitan erat dengan identitas suatu bangsa (nation identity). Carolyn Stephenson juga menempatkan nation identity sebagai salah satu komponen dari nation building. “The people of a nation generally share a common national identity, and part of nation-building is the building of that common identity”.
Prof. Sam Wineburg dalam bukunya Berpikir Historis: Memetakan Masa Depan, Mengajarkan Masa Lalu, menyatakan bahwa sejarah dapat mengajarkan kepada kita cara-cara untuk menentukan pilihan dan juga untuk memperhitungkan berbagai pendapat. Sejarah juga memiliki potensi (yang baru sebagian saja terwujud) untuk menjadikan kita manusia yang berperikemanusiaan.[5]
Menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, nation identity adalah aspek yang berperan dalam nation building, maka yang melandasi identitas sebuah bangsa adalah sejarahnya. Apabila identitas seseorang pribadi dikembalikan kepada riwayatnya, maka identitas suatu bangsa berakar pada sejarah bangsa itu. Bangsa yang tidak mengenal sejarahnya dapat diibaratkan seorang individu yang telah kehilangan memorinya, ialah orang pikun atau sakit jiwa, maka dia kehilangan kepribadian atau identitasnya (Sartono 1993: 50). Lewat pengenalan dan pembelajaran sejarah, kesadaran nasional dapat dipupuk dan identitas nasional menjadi landasan kuat bagi pembangunan bangsa, kiranya jelas bahwa pengkajian sejarah mempunyai fungsi fundamental dalam pembangunan bangsa serta pembentukan manusia
Television Viewing as a Cultural Practice
Pemirsa televisi kiranya perlu paham benar bahwa frase ‘menonton televisi’, bukan sekedar frase mati yang tanpa pemahaman. Lebih jauh lagi, menonton televisi dinilai dapat membentuk budaya masyarakat. “…television viewing provides a prominent occasion for viewers construction of culture” (Michael K. Saenz dalam Newcomb, 1994: 573). Dari menonton televisi seseorang mendapat sebuah informasi atau ilmu pengetahuan yang menjadi referensi, mempengaruhi pola prilakunya sehari-hari.
Menurut Bourdieu seperti dikutip Michael K. Saenz, televisi bukan menjadi pelaku utama (pembentuk budaya) dalam kehidupan sosial masyarakat, juga bukan sebagai refleksi dari kehidupan. “…but as a material used in making meaning and action, as a component of ‘doxa’ used in the production of social practices” (Bourdieu 1986, 164). Dari pandangan Bourdieu tersebut, televisi hanyalah sebatas bahan atau komponen, otoritas memilih tayangan tetap berada di tangan masyarakat.
Menurut pandangan para ilmuan, penonton televisi juga terikat oleh pengalamannya pada masa lampau yang kemudian semakin berkembang dan mengubah pandangannya (relationship) terhadap identitas negara, bangsa, dan masyarakatnya. Michael K. Saenz mengemukakan pemikirannya tentang bagaimana seharusnya masyarakat menggunakan televisi untuk merekonstruksi identitas bangsanya. “The ethnic seeks to reconstruct her identity, and establish a kind of ethical program for her self, by tying herself retrospectively to the world of her parents and the people surrounding her in youth.”()[7]
Deskripsi Analisis
Hal-hal teknis yang menurut saya memperkuat aspek ‘sejarah’ (selain tema besar edisi) dalam tayangan METRO FILES terjabar seperti berikut ini:
· Bumper in => pada bumper in, dominasi warna adalah coklat hitam, berisi judul acara METRO FILES dengan didampingi oleh foto-foto ‘usang’ hitam putih, yang dibuat kolase dan saling berganti. Angka-angka tahun seperti 1965, 1983, 1945, 1928, 1908 juga mengisi gambar bumper in, berselang-seling dengan opacity rendah membayangi foto-foto usang tersebut.
· Materi gambar/foto => gambar ilustrasi atau foto-foto yang mendukung dan mendominasi tayangan METRO FILES, selain tayangan wawancara dengan narasumber serta reka adegan.
· Reka adegan => METRO FILES merekonstruksi juga adegan pada momen-momen tertentu disetiap edisinya. Hal ini membantu pemirsa untuk mendapat penggambaran keadaan pada masa tersebut. Reka adegan menyelingi gambar atau foto juga sebagai kombinasi agar penonton tidak bosan.
· Zoom in/out => ketika materi foto atau gambar ilustrasi ditampilkan, efek mata kamera menggunakan fungsi zoom in dan zoom out. Hal ini sebagai efek dramatis, menimbulkan fokus pemirsa terhadap materi foto atau gambar ilustrasi tersebut.
· Warna => dominasi warna ketika menampilkan reka adegan, ataupun materi foto dan gambar ilustrasi adalah hitam putih tidak jarang warna-warna sephia dimunculkan, permainan warna ini menimbulkan kesan lama/usang, sesuai dan mendukung tema sejarah yang diangkat.
· Musik ilurstrasi => musik ilustrasi yang dipilih mendukung dan menyesuaikan perbedaan materi bahasan disetiap babaknya.
Konten sejarah dalam METRO FILES
Pada bagian ini saya mencoba membahas dan mendeskripsikan konten acara pada episode 15 Desember yang lalu. Dalam tajuk “Raja Pati Perang Badung”, pemirsa METRO FILES diajak untuk kembali pada awal abad ke 19, khususnya di pulau
Narasi yang menjadi pemandu pemirsa ditemani oleh gambar dan musik ilustrasi serta reka adegan sebagai tambahan gambaran kejadian masa itu. Secara keseluruhan, pada episode Raja Pati Perang Badung, materi bahasan dibagi menjadi beberapa (kita istilahkan) babak. Setiap babaknya diselingi oleh slot iklan. Misalnya setelah perkenalan awal, iklan masuk sebagai jeda menuju pembahasan berikutnya, begitu seterusnya. Hal ini dapat menjadi panduan pemirsa untuk mengetahui bahwa dalam pembahasan setiap episodenya terdapat jenjang atau fokus yang berbeda.
Pada episode ini, METRO FILES mengambil cerita hanya dari awal sampai dengan berakhirnya perang Puputan di Bali, tentu diawali dengan sedikit latar belakang. Pada pertengahan materi, beberapa sejarawan diundang untuk turut menjelaskan. Biasanya sejarawan Asvi Marwan Adam menjadi langganan
Pada akhir tayangan, seperti ada kesimpulan yang diambil. Narator juga para narasumber, meninggikan sifat heroik yang ditunjukkan masyarakat
Menurut saya, ketika dipandang dari konsep televison viewing as a cultural practice, METRO FILES merupakan program yang dibutuhkan masyarakat Indonesia untuk membina identitas bangsa, terlebih di tengah kondisi krisis seperti ini. METRO FILES menjadi program yang dapat mengkonstruksi pemikiran masyarakat dan menciptakan budaya, agar melihat sejarah lebih jauh sebagai landasan untuk kita bertindak ke depan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
Seperti dalam pandangan Bourdieu, METRO FILES sebagai tayangan televisi dapat menjadi komponen dan bahan dasar dari produksi prilaku sosial. METRO FILES dapat menjadi tambahan referensi setiap pemirsa yang (ingin) mengkonsumsinya, terhadap bagaimana mereka memandang bangsa, negara, dan masyarakatnya. Lewat tayangan kesejarahan, METRO FILES memupuk jati diri masyarakat dan nation identity dalam rangka pembangunan bangsa. Seperti terjabar pada konsep nation building, di mana pembangunan sebuah bangsa membutuhkan identitas bangsa sebagai modal mental dan rasa percaya diri masyarakat. Identitas sebuah bangsa tidak lain dibentuk oleh pengalaman kolektif bersama yang kemudian menjadi sejarah yang dapat juga melegitimasi eksistensi sebuah bangsa.
Semuanya dapat dimulai ketika setiap individu paham bahwa ‘televisi’ dan ‘menonton televisi’ bukanlah hal yang sederhana. “The social currency viewers accord television is not attributable simply to the medium representations of society, nor exclusively to its ability to propagandize, but also, fundamentally, to the opportunity it provides for exercising viewers adeptness at cultural production” (Michael K. Saenz dalam Newcomb 1994: 574). Merujuk pula pada pandangan Michael K. Saenz, di mana setiap masyarakat yang berbangsa seharusnya mencari program tayangan televisi yang etis dan dapat membangun identitas bangsanya. Sudah saatnya otoritas kembali kepada tangan pemirsa, untuk memilih, dan mengkonsumsi program acara yang disuguhkan oleh televisi.
[1] Baca www.metrotvnews.com, terdapat deskripsi singkat disetiap link program acara. Akses 12 Desember 2008.
[2] Baca www.korantempo.com edisi 4 Desember 2008, “Acara Hiburan TV Dinilai Buruk”. Akses 13 Desember 2008.
[3] Darwanto dalam bukunya “Televisi Sebagai Media Pendidikan”, 2007.
[4] Prof. Carolyn Stephenson dalam tulisannya “
[5] Sam Wineburg dalam buku Berpikir Historis: Memetakan Masa Depan, Mengajarkan Masa Lalu. 2006.
[6] Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo dalam bukunya “Pembangunan Bangsa”, 1994.
[7] Television as a Cultural Practice diambil dari Television: The Critical View yang disusun dan diedit oleh Horace Newcomb, 1994.


