January 24, 2009

Dunia Di Luar Dunia

“...nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.”


Begitu kira-kira ungkapan seorang filsuf Yunani yang pernah membuat seorang Soe Hok Gie berpikir. Lalu siapa yang bisa meminta untuk tidak dilahirkan? Ketika telah lahir ke dunia dan telah melihat semua kesedihan yang terjadi di dunia, mungkin Aku dan banyak dari kalian di luar sana memilih untuk kembali ke rahim Ibu, berdiam di sana untuk selamanya, dan berharap untuk tidak di lahirkan ke dunia. Namun sayangnya, harapanku tidak terkabul, yang berkuasa atas Aku, telah menghembuskan nafasnya lewat rahim Ibuku, Aku terlahir ke dunia.

Ketika kecil dulu Aku melewati detik-detik terindah dalam hidupku. Indah seakan tanpa beban, dan Kau tahu?? dunia ketika itu masih cerah berwarna-warni berputar mengelilingi otak dan tubuhku. Langkah ceriaku ringan berlari. Mungkin terlalu ringan, sampai-sampai Aku tidak bisa merasakan langkah kakiku sendiri. Aku serasa hidup di awan. Dunia ketika itu masih penuh dengan gelak tawaku dan teriakan sayang teman-temanku.

Ketika tubuhku semakin bertambah besar, langkah kakiku masih terasa ringan. Namun, mulai tumbuh benih-benih kebencianku terhadap dunia. Aku tidak tahu, kenapa cerahnya warna-warni dunia waktu sebelumnya sedikit memudar?? Dan Aku tidak suka hal itu. Ketika otakku semakin membesar, dunia pun ikut membesar, namun kenapa warna-warninya tidak ikut membesar?? Aku tidak tahu. Untungnya, Aku masih bisa mendengar gelak tawa dan teriakkan sayang teman-temanku sendiri.

Dunia semakin menghitam!!! Aku tidak suka hal ini, Aku mulai benci pada dunia. Dia semakin membesar di dalam otakku dan mulai membebani otakku dengan warna-warninya yang semakin memudar saja. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, dunia mulai terlalu menguasai pikiranku. Langkahku semakin berat dan menjadi gontai. Aku mulai bosan dengan dunia yang sekarang, Aku merindukan dunia yang dulu cerah berwarna-warni. Aku pun mulai tersedak dan tidak bisa berkata-kata. Aku tidak senang, Aku ingin duniaku yang dulu!!! Kemana teman-temanku?? Aku menjadi sedih, Aku tak berdaya!!! Aku benci dunia!!!

Dunia benar-benar terasa berat, dan entah kenapa wajahnya semakin muram dan bersedih. Kenapa Dia yang menjadi sedih!!? Seharusnya Aku!!! Dunialah yang membuatku seperti ini!!! Aku menjadi sangat benci kepada dunia!!! Dia semakin besar saja di otakku, semakin hitam pekat, dan terlalu banyak meneteskan air mata. Masa bodoh!!! Dia yang menyebabkan Aku seperti ini. Langkahku menjadi sangat berat, gelak tawa menjadi hilang, dan teriakkan sayang itu menjadi cemooh dan cacian. Aku benar-benar benci pada dunia!!!

Biar saja dunia semakin hitam dan terus menangis, Aku tidak peduli!!! Bahkan sampai Dia mati dan hancur dari otakku pun, Aku tidak peduli, masa bodoh!!! Aku masih bisa hidup walaupun dunia telah mati!!! Bahkan mungkin Aku akan menciptakan dunia yang baru yang sesuai dengan keinginanku!!! Aku akan menciptakan dunia baru dalam otakku. Dunia yang bebas yang selalu gemerlap dan berwarna-warni.

Selamat tinggal dunia, matilah dengan segala beban dan air mata yang terus Kau teteskan. Aku berharap tidak ada orang yang akan membantumu menyeka air mata itu. Dan Aku yakin tidak akan ada lagi orang yang mau mewarnaimu dengan warna-warna yang cerah, karena orang-orang itu juga telah mati otaknya. Kau akan terus hitam, kelam dan membusuk!!!

0 Comments: