Pikir jauh tertarik pada suatu masa, suatu sore beberapa hari sebelum tahun 2008 menghembuskan nafasnya...
Dimulai dengan, pada suatu hari...
Ayahku memiliki sebuah usaha, tepatnya usaha primer ayahku. Sebuah rumah makan di tepi laut, utara kota Tangerang. Ketika hari Natal yang lalu, Desember 2008, aku pulang ke Tangerang (biasanya selalu merayakan di Yogyakarta, bersama teman-teman). Berhubung sudah di ultimatum dan harus pulang, pulanglah aku ke tempat kelahiran. Di Tangerang, aku selalu mengunjungi tempat usaha ayahku itu, untuk sekedar menginap dan bantu-bantu sedikit melayani para pengunjung. Kira-kira tanggal 22 Desember 2008, aku ada di sana sampai sore hari 23 Desember 2008. Hari itu cukup ramai mengingat sudah mulai beranjak libur anak-anak sekolah, juga mungkin dikarenakan tidak ada lain tempat wisata di wilayah Tangerang selain seribu Mall dan pusat perbelanjaan. Maklum, kota industri, cukup menjemukan. Setelah menghabiskan satu malam di sana, pulang aku ke rumah, tidak sabar bertemu sanak keluarga yang lain.
Nah, ini inti ceritanya. Pada saat pulang, aku naik angkutan kota (angkot), sejenis mobil colt atau minibus. Angkot ini full musik, beberapa artis pop ibukota terdengar suaranya. Ungu, ADA Band, ST12, D'Massiv, di antaranya. Kebetulan sore hari, dan aku hanya sendiri di mobil itu. Beberapa menit berjalan, angkot tiba di depan salah satu sekolah di daerah Kampung Melayu, Tangerang. Kalau tidak salah lihat, merk sekolahnya, SDN 1 Kampung Melayu. Menunggu si sopir di pinggir jalan, menanti penumpang. Menit demi menit terlalui dengan menunggu, hal yang mungkin dirasa oleh beberapa orang sebagai sesuatu yang menjengkelkan. Apalagi ketika kita butuh waktu cepat, dan sangat terburu-buru. Kali ini aku cukup menikmati, karena tidak terburu-buru juga. Mungkin para penumpang yang sekiranya mengalami hal yang sama, perlu mengarahkan pikir di mana ketika kita menjadi si supir, yang butuh uang untuk disetorkan, memikirkan pula anak istri di rumah..hehee..tidak berlebihan bukan?
Para penumpang yang ditunggu datang juga. Siapa mereka?? Ternyata sekelompok bocah-bocah SD tersebut, SDN 1 Kampung Melayu, Tangerang. Riuh ocehan mereka menggema di dalam angkutan ini. "Ayo dek..naik...masih kosong..cepet..cepet!!!" teriak si supir dengan bersemangat. "Woy, ayo cepet, dih lama banget elu mah!!" salah satu anak menyuruh temannya untuk naik, dengan logat pesisir utara Jakarta atau Tangerang, tersenyum kecut juga aku mendengarnya, lucu. Tidak lama, angkot itu penuh oleh anak-anak sekolah dasar. Ribut mereka membicarakan segala hal yang mereka alami hari ini. Diam-diam aku mendengarkan topik pembicaraannya, karena tidak punya lawan bicara.
"Coba liat rapot elu!" kata seorang anak kepada lainnya. Baru aku paham, ternyata hari ini adalah hari pengambilan hasil akhir pembelajaran atau rapor. Teringat juga, waktu masih SD dulu, setidaknya ada seseorang yang mendampingiku untuk mengambil rapor, biasanya salah satu, ayah atau ibu. Tapi hari ini, aku lihat di dalam angkot, tidak ada satupun orang dewasa yang mendampingi mereka, anak-anak ini mengambil rapornya sendiri. Ramai jadinya mobil ini, ocehan anak-anak SD menilai hasil teman-temannya sendiri. Aku hanya bisa tersenyum, diri serasa ditarik lagi ke masa kecil, ketika jantung berdebar cepat, menanti hasil akhir belajar.
Angkot terus berjalan menyusur, menuju wilayah Tangerang Kota. Tiba-tiba, telinga menangkap satu lagu. "...mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya. Laskar pelangi..." Ya, Laskar Pelangi, salah satu lagu yang dibawakan oleh grup musik Nidji. Siapa tak kenal? Original Soundtrack sebuah film dengan judul yang sama, diangkat dari sebuah novel inspiratif karya Andreas Hirata. Lagu ini terus memenuhi dinding angkot, menyamai cericau seru anak-anak SD.
Entah kenapa seperti ada rasa berbeda petang ini. Sekumpulan anak SD yang baru mengambil rapornya ditemani dengan lagu inspiratif Laskar Pelangi, benar-benar membuat hati berdesir. Aku kembali tersenyum, membayangkan anak-anak SD ini yang juga tersenyum lepas menjadi generasi penerus Nusantara, menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Akan terjadi apabila mereka dapat menempuh seterusnya pendidikan mereka. Ada kecocokan di sini, lagu dan film Laskar Pelangi yang mengisahkan mimpi anak-anak Indonesia untuk terus belajar, berkembang, memahami dunia, mengiringi langkah anak-anak SDN 1 Kampung Melayu di dalam angkot bercericau tentang hasil belajar mereka.
Kejadian petang ini membuat pikir berkaca pada dunia pendidikan Indonesia sekarang. Pendidikan pun bukan hal yang mudah didapat, bukan suatu hal yang murah. Masih berjuta anak Indonesia yang belum mengecap dunia pendidikan. Masih berjuta rakyat ada di bawah garis kemiskinan. Sementara anak-anak Indonesia itu masih terus bermimpi, dan Indonesia masih terus mencari pemimpinnya, kita yang berada jauh di atas si miskin menjadi semakin tidak peduli.
Satu persatu anak-anak SDN 1 kampung Melayu Tangerang turun, tiba ditujuannya. Lagu Laskar Pelangi pun habis terdengar. Aku kembali sendiri di angkutan ini, memandang petang dan tersenyum kecil membayangkan senyum cerah anak-anak SD tadi, anak-anak dari Ibu Pertiwi, Indonesia...
January 26, 2009
Anak-anak SDN 1 Kampung Melayu Tangerang
posted by Dany Ismanu at 1:13 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 Comments:
Post a Comment