January 26, 2009

Berkelana Di Hari Ini

Senin 26 Januari 2009, tahun baru Cina atau Imlek 2560 ini tanpa disengaja bertepatan dengan hari ulang tahunku..hehee... Seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu merayakan, menghadapi, dan meniup lilin ulang tahun dari mulutku sendiri, tanpa tepuk dan jabat tangan dari orang lain. Malah ditahun kemarin, harus merayakan hari jadi di dalam kereta ekonomi jurusan Jakarta-Jogja...yah, maklum, sedang berusaha menambah panjang nama dengan kata S.Sos...

Intinya tidak ada yang spesial menginjak 22 tahun umurku. Kata orang sih, itu sudah saatnya seorang laki-laki beranjak dewasa. Mungkin juga karena tidak ada yang spesial itu tadi, hari ini malah terasa spesial, merayakan dengan keheningan, senyap.

Beralih topik, kira-kira jam 8 pagi ini, aku berputar-putar mengelilingi sebagian wilayah Jogja. Berangkat dari Babarsari, menelusur Jl. Laksda Adi Sucipto, sampai di Tugu Jogja, kemudian ke selatan menembus Jl. P. Mangkubumi menuju Jl. Pasar Kembang. Aneh, sama sekali tidak terasa hawa perayaan Imlek tahun ini. Hanya jalan yang sepi, pun aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa. Niatku ingin mencari peristiwa untuk ditulis, daripada merayakan sendiri hari jadiku. Berpikir, apa aku yang kelewat siang, sehingga melewatkan perayaan atau pawai jalanan yang biasa ada ketika hari raya Imlek.

Sampai di Jl. RE Martadinata dan K.H Ahmad Dahlan, yang membujur dari barat ke timur menuju perempatan kantor pos besar Yogyakarta. Wah, ada iringan anak-anak kecil berbaju layaknya seorang karateka dengan warna merah kuning. Dengan cukup bersemangat akhirnya yang ditunggu datang juga. Semakin memperhatikan pawai itu, dan usut punya usut, di panji-panji bendera yang mereka bawa, bertuliskan "Tapak Suci Muhammadiyah". Hati menjadi lesu, niat pun aku urungkan. Namun terbersit juga di dalam pikir, semoga mereka yang masih kecil dan akan beranjak dewasa semakin menghargai perbedaan, dan semoga iring-iringan ini menandai semakin derasnya rasa toleransi dan menghormati antara kita manusia. Senyum di bibir pun aku sunggingkan, hati menjadi bangga.

Menuju aku ke arah Klenteng Gondomanan yang bernama asli Vihara Budha Praba. Pun keadaan sepi, memang kepulan asap yang mungkin berasal dari hio atau abu yang dibakar terlihat dari luar Klenteng. Sepertinya perayaan sudah berakhir, dan sepertinya lagi, benar, aku yang terlambat datang.

Satu Klenteng lagi yang hendak aku kunjungi, Klenteng Kranggan yang terletak di Jl. Poncowinatan, Yogyakarta. Klenteng yang dulu pernah terancam keberadaannya karena pembangunan sekolah Budya Wacana. Sekolah itu sekarang terletak persis di belakangnya. Klenteng yang satu ini memang dibalut oleh keramaian setiap harinya, keramaian pasar Kranggan. Aku lirikkan mata ke arahnya ketika menelusur jalan. Halaman depannya penuh oleh kendaraan bermotor yang parkir. Asap putih memenuhi ruang dalamnya. Keadaan tidak jauh berbeda dengan Klenteng Gondomanan, cukup sepi. Naluri jurnalistikku menurun, menyandarkan motor di halamannya pun tidak aku lakukan, akhirnya lewat begitu saja.

Sampai aku menulis catatan ini, kurang lebih telah satu setengah jam lewat aku habiskan berkeliling, tentu diiringi pikiran-pikiran nakal di jalanan. Seperti kita ketahui, di era presiden Abdurahman Wahid aka Gus Dur, Inpres No. 14 th. 1967 pada rezim Soeharto, yang melarang segala hal yang berbau Tionghoa, dicabut. Megawati Soekarnoputri sebagai presiden berikutnya menindaklanjuti dengan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden No. 19 th. 2002.

Aku pun berpikir, pantaslah Imlek tahun ini sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mungkin karena saudara kita warga Tionghoa tidak lagi butuh eksistensi. Eksistensi lewat pawai, iring-iringan, pertunjukkan barongsai, dsb. Mereka telah yakin diterima sebagai salah satu rumpun bangsa Indonesia. Mereka telah yakin, karena kita pun yakin mereka adalah tak terpisahkan sebagai satu tubuh, Indonesia. Jadinya kita sama-sama yakin, sebagai Indonesia. Atau malah sepi dari perayaan karena menurut mitologi, tahun ini adalah tahun kerbau, tahun dengan masa-masa sulit dan harus dihadapi dengan kerja keras. Oleh karena itu, Imlek lebih dirayakan dengan permenungan, dengan introspeksi diri pribadi demi memunculkan resolusi ke depannya, mungkin.

Yang pasti, aku pun layak memikirkan sebuah resolusi ke depan, mengingat umur yang sudah tidak muda lagi..hehee... Akhir kalimat ini tidak berakhir begitu saja, pikir dan tubuh harus terus berkelana, mencari sesuatu yang beda...selamat ulang tahun diriku!!! ^^

Drrtt...rrtttt...drrtttt...telepon selular bergetar, satu lagi ucapan 'selamat ulang tahun'...
terimakasih untuk kalian.....

0 Comments: