Anatomi program
Nama Program : METRO FILES
Genre : Program dokumeter sejarah
Stasiun : METRO TV
Hari Tayang : Minggu
Waktu Tayang : 20.05 – 21.00 WIB
Pembawa Acara : - (narasi)
Deskripsi Program
METRO FILES merupakan program acara dokumenter yang memfokuskan diri pada suatu peristiwa bersejarah, seorang tokoh bersejarah, atau seorang tokoh bersejarah dalam peristiwa yang bersejarah pula. Metro Files is a documentary that dissects on affair which occurred in history. An affair that is hidden, controversial, dramatic and breathtaking. Other strength points, Metro Files also presents archive footages that many have not witnessed.[1]
Latar Belakang
Menurut survey yang dilakukan oleh Yayasan Science dan Estetika, Ikatan Jurnalis Televisi
Dengan fungsi pendidikannya, sepertinya wajar ketika televisi dan media
Bangsa
Menilik fungsi pendidikan pada televisi, cukup menarik membaca peranan televisi saat ini. Bagaimana (perusahaan) televisi lewat program tayangannya memunculkan konsep nation building sebagai media pembelajaran dan pemersatu masyarakatnya di tengah kondisi krisis seperti sekarang ini. Nation building yang di dalamnya didukung kembali oleh banyak faktor dan aspek-aspek lainnya. Nation building yang selalu berjalan dinamis sebagai sebuah proses dan tujuan serta pembelajaran suatu bangsa,
Rumusan Masalah
Bagaimana program acara “METRO FILES” yang diproduksi oleh METRO TV menyampaikan konsep nation building dalam setiap edisinya?
Kerangka Teori
Prof. Carolyn Stephenson dalam tulisannya tentang nation building, menganggap definisi nation building sangat normatif dan konstekstual. Menurut perspektifnya, “The latest conceptualization is essentially that nation-building programs are those in which dysfunctional or unstable or "failed states" or economies are given assistance in the development of governmental infrastructure, civil society, dispute resolution mechanisms, as well as economic assistance, in order to increase stability.”[4]
Sementara itu menurut Edi Sudradjat dalam buku kajian Lemhannas, nation building merupakan segala usaha dan daya upaya yang dilakukan secara terpadu oleh seluruh rakyat dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya, mencapai tingkat kehidupan bangsa yang lebih baik sebagaimana dicita-citakan (Edi Sudradjat 1982: 4). Nation building sebagai sebuah konsep berkaitan erat dengan identitas suatu bangsa (nation identity). Carolyn Stephenson juga menempatkan nation identity sebagai salah satu komponen dari nation building. “The people of a nation generally share a common national identity, and part of nation-building is the building of that common identity”.
Prof. Sam Wineburg dalam bukunya Berpikir Historis: Memetakan Masa Depan, Mengajarkan Masa Lalu, menyatakan bahwa sejarah dapat mengajarkan kepada kita cara-cara untuk menentukan pilihan dan juga untuk memperhitungkan berbagai pendapat. Sejarah juga memiliki potensi (yang baru sebagian saja terwujud) untuk menjadikan kita manusia yang berperikemanusiaan.[5]
Menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, nation identity adalah aspek yang berperan dalam nation building, maka yang melandasi identitas sebuah bangsa adalah sejarahnya. Apabila identitas seseorang pribadi dikembalikan kepada riwayatnya, maka identitas suatu bangsa berakar pada sejarah bangsa itu. Bangsa yang tidak mengenal sejarahnya dapat diibaratkan seorang individu yang telah kehilangan memorinya, ialah orang pikun atau sakit jiwa, maka dia kehilangan kepribadian atau identitasnya (Sartono 1993: 50). Lewat pengenalan dan pembelajaran sejarah, kesadaran nasional dapat dipupuk dan identitas nasional menjadi landasan kuat bagi pembangunan bangsa, kiranya jelas bahwa pengkajian sejarah mempunyai fungsi fundamental dalam pembangunan bangsa serta pembentukan manusia
Television Viewing as a Cultural Practice
Pemirsa televisi kiranya perlu paham benar bahwa frase ‘menonton televisi’, bukan sekedar frase mati yang tanpa pemahaman. Lebih jauh lagi, menonton televisi dinilai dapat membentuk budaya masyarakat. “…television viewing provides a prominent occasion for viewers construction of culture” (Michael K. Saenz dalam Newcomb, 1994: 573). Dari menonton televisi seseorang mendapat sebuah informasi atau ilmu pengetahuan yang menjadi referensi, mempengaruhi pola prilakunya sehari-hari.
Menurut Bourdieu seperti dikutip Michael K. Saenz, televisi bukan menjadi pelaku utama (pembentuk budaya) dalam kehidupan sosial masyarakat, juga bukan sebagai refleksi dari kehidupan. “…but as a material used in making meaning and action, as a component of ‘doxa’ used in the production of social practices” (Bourdieu 1986, 164). Dari pandangan Bourdieu tersebut, televisi hanyalah sebatas bahan atau komponen, otoritas memilih tayangan tetap berada di tangan masyarakat.
Menurut pandangan para ilmuan, penonton televisi juga terikat oleh pengalamannya pada masa lampau yang kemudian semakin berkembang dan mengubah pandangannya (relationship) terhadap identitas negara, bangsa, dan masyarakatnya. Michael K. Saenz mengemukakan pemikirannya tentang bagaimana seharusnya masyarakat menggunakan televisi untuk merekonstruksi identitas bangsanya. “The ethnic seeks to reconstruct her identity, and establish a kind of ethical program for her self, by tying herself retrospectively to the world of her parents and the people surrounding her in youth.”()[7]
Deskripsi Analisis
Hal-hal teknis yang menurut saya memperkuat aspek ‘sejarah’ (selain tema besar edisi) dalam tayangan METRO FILES terjabar seperti berikut ini:
· Bumper in => pada bumper in, dominasi warna adalah coklat hitam, berisi judul acara METRO FILES dengan didampingi oleh foto-foto ‘usang’ hitam putih, yang dibuat kolase dan saling berganti. Angka-angka tahun seperti 1965, 1983, 1945, 1928, 1908 juga mengisi gambar bumper in, berselang-seling dengan opacity rendah membayangi foto-foto usang tersebut.
· Materi gambar/foto => gambar ilustrasi atau foto-foto yang mendukung dan mendominasi tayangan METRO FILES, selain tayangan wawancara dengan narasumber serta reka adegan.
· Reka adegan => METRO FILES merekonstruksi juga adegan pada momen-momen tertentu disetiap edisinya. Hal ini membantu pemirsa untuk mendapat penggambaran keadaan pada masa tersebut. Reka adegan menyelingi gambar atau foto juga sebagai kombinasi agar penonton tidak bosan.
· Zoom in/out => ketika materi foto atau gambar ilustrasi ditampilkan, efek mata kamera menggunakan fungsi zoom in dan zoom out. Hal ini sebagai efek dramatis, menimbulkan fokus pemirsa terhadap materi foto atau gambar ilustrasi tersebut.
· Warna => dominasi warna ketika menampilkan reka adegan, ataupun materi foto dan gambar ilustrasi adalah hitam putih tidak jarang warna-warna sephia dimunculkan, permainan warna ini menimbulkan kesan lama/usang, sesuai dan mendukung tema sejarah yang diangkat.
· Musik ilurstrasi => musik ilustrasi yang dipilih mendukung dan menyesuaikan perbedaan materi bahasan disetiap babaknya.
Konten sejarah dalam METRO FILES
Pada bagian ini saya mencoba membahas dan mendeskripsikan konten acara pada episode 15 Desember yang lalu. Dalam tajuk “Raja Pati Perang Badung”, pemirsa METRO FILES diajak untuk kembali pada awal abad ke 19, khususnya di pulau
Narasi yang menjadi pemandu pemirsa ditemani oleh gambar dan musik ilustrasi serta reka adegan sebagai tambahan gambaran kejadian masa itu. Secara keseluruhan, pada episode Raja Pati Perang Badung, materi bahasan dibagi menjadi beberapa (kita istilahkan) babak. Setiap babaknya diselingi oleh slot iklan. Misalnya setelah perkenalan awal, iklan masuk sebagai jeda menuju pembahasan berikutnya, begitu seterusnya. Hal ini dapat menjadi panduan pemirsa untuk mengetahui bahwa dalam pembahasan setiap episodenya terdapat jenjang atau fokus yang berbeda.
Pada episode ini, METRO FILES mengambil cerita hanya dari awal sampai dengan berakhirnya perang Puputan di Bali, tentu diawali dengan sedikit latar belakang. Pada pertengahan materi, beberapa sejarawan diundang untuk turut menjelaskan. Biasanya sejarawan Asvi Marwan Adam menjadi langganan
Pada akhir tayangan, seperti ada kesimpulan yang diambil. Narator juga para narasumber, meninggikan sifat heroik yang ditunjukkan masyarakat
Menurut saya, ketika dipandang dari konsep televison viewing as a cultural practice, METRO FILES merupakan program yang dibutuhkan masyarakat Indonesia untuk membina identitas bangsa, terlebih di tengah kondisi krisis seperti ini. METRO FILES menjadi program yang dapat mengkonstruksi pemikiran masyarakat dan menciptakan budaya, agar melihat sejarah lebih jauh sebagai landasan untuk kita bertindak ke depan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
Seperti dalam pandangan Bourdieu, METRO FILES sebagai tayangan televisi dapat menjadi komponen dan bahan dasar dari produksi prilaku sosial. METRO FILES dapat menjadi tambahan referensi setiap pemirsa yang (ingin) mengkonsumsinya, terhadap bagaimana mereka memandang bangsa, negara, dan masyarakatnya. Lewat tayangan kesejarahan, METRO FILES memupuk jati diri masyarakat dan nation identity dalam rangka pembangunan bangsa. Seperti terjabar pada konsep nation building, di mana pembangunan sebuah bangsa membutuhkan identitas bangsa sebagai modal mental dan rasa percaya diri masyarakat. Identitas sebuah bangsa tidak lain dibentuk oleh pengalaman kolektif bersama yang kemudian menjadi sejarah yang dapat juga melegitimasi eksistensi sebuah bangsa.
Semuanya dapat dimulai ketika setiap individu paham bahwa ‘televisi’ dan ‘menonton televisi’ bukanlah hal yang sederhana. “The social currency viewers accord television is not attributable simply to the medium representations of society, nor exclusively to its ability to propagandize, but also, fundamentally, to the opportunity it provides for exercising viewers adeptness at cultural production” (Michael K. Saenz dalam Newcomb 1994: 574). Merujuk pula pada pandangan Michael K. Saenz, di mana setiap masyarakat yang berbangsa seharusnya mencari program tayangan televisi yang etis dan dapat membangun identitas bangsanya. Sudah saatnya otoritas kembali kepada tangan pemirsa, untuk memilih, dan mengkonsumsi program acara yang disuguhkan oleh televisi.
[1] Baca www.metrotvnews.com, terdapat deskripsi singkat disetiap link program acara. Akses 12 Desember 2008.
[2] Baca www.korantempo.com edisi 4 Desember 2008, “Acara Hiburan TV Dinilai Buruk”. Akses 13 Desember 2008.
[3] Darwanto dalam bukunya “Televisi Sebagai Media Pendidikan”, 2007.
[4] Prof. Carolyn Stephenson dalam tulisannya “
[5] Sam Wineburg dalam buku Berpikir Historis: Memetakan Masa Depan, Mengajarkan Masa Lalu. 2006.
[6] Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo dalam bukunya “Pembangunan Bangsa”, 1994.
[7] Television as a Cultural Practice diambil dari Television: The Critical View yang disusun dan diedit oleh Horace Newcomb, 1994.



0 Comments:
Post a Comment