March 05, 2009

Caleg Tandatangani Kontrak Politik Dengan Difabel

Sejumlah caleg di Yogyakarta menandatangani kontrak politik dengan kaum difabel. Para caleg DPR maupun DPRD itu menyusun sendiri janji-janji mereka yang kemudian ditandatangani di hadapan puluhan difabel Yogyakarta.

Acara kontrak politik tersebut diselenggarakan oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel Yogyakarta (SIGAB DIY) di Gedung Oproom, Tridadi, Sleman (5/3/2009).

Dalam kontrak politiknya, para caleg secara umum berjanji untuk mengubah kebijakan anggaran negara yang selama ini dirasa timpang oleh kaum difabel. Pembentukan dan pengawalan terhadap peraturan daerah ataupun undang-undang yang berpihak pada kesetaraan hak difabel, juga menjadi agenda para calon wakil rakyat tersebut.

Menurut Budi Irawanto, salah satu pembicara yang juga staf peneliti di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (PSSAT UGM), kontrak politik ini sebagai permulaan ada baiknya. Baginya, paling tidak ada kontrol kepada para caleg terhadap kebijakan yang mereka bawa nantinya.

"Ada suatu proses pendidikan politik yang bagus, dan bagi caleg paling tidak ini menjadi bagian kontrol awal terhadap apa yang akan mereka lakukan ketika menjadi anggota legislatif," ujar dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada ini.

Kontrak politik ini, lanjut Budi, harus disuarakan juga dalam internal partai masing-masing caleg. Menurutnya, isu difabel lebih mendasar terletak pada persoalan pemenuhan hak warga negara. Semua partai politik harus peduli kalau mereka mengklaim memperjuangkan aspirasi warga negara.

"Ini tidak bisa berhenti pada komitmen individual, bisa saja partai menggariskan tapi individunya tidak melakukan, atau sebaliknya," kata Budi.

Kontrak politik ini dinilai baik sebagai awalan, namun belum cukup kuat untuk benar-benar memperjuangkan persamaan hak difabel di segala bidang kehidupan, baik ekonomi, politik, hukum, maupun sosial budaya.

"Ini lebih mengikat pada individual, sebenarnya desakan yang lebih bersifat kelembagaan, perubahan terhadap mekanisme atau sistem, juga harus dilakukan secara pararel," tandas Budi.(dny)

0 Comments: