December 09, 2009

Aksi Massa 9 Desember 2009

other photo at ayutasahaya.multiply.com

Bertepatan dengan hari Anti Korupsi Sedunia, Kota Yogyakarta diwarnai beberapa aksi demo hari ini (9/12). Mengusung satu isu, Indonesia Bersih dari Korupsi, aksi ini terdiri dari beberapa elemen mahasiswa, diantaranya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Yogyakarta, Aliansi Mahasiswa Lampung Yogyakarta, dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Yogyakarta.

Aksi Mahasiswa bermula dari Gedung BI Yogyakarta, kemudian bergerak ke perempatan besar Bank BNI, dan terkonsentrasi di halaman depan Gedung Agung Yogyakarta. Di setiap tempat aksi, orasi dilakukan untuk menyatakan tuntutan.

September 24, 2009

Hari Kemenangan dan Lain-lain

Puasa, Idul Fitri, dan berlebaran, selalu menyertai tahun demi tahun. Ya, layaknya Natal, Paskah, atau, Imlek, dan lain-lain, dia selalu dirayakan. Layaknya pula tahun baru, jika dirayakan tanpa kemeriahan, rasanya hampa saja. Maka dua hari Idul Fitri atau lebaran selalu disanjung dengan sebutan Hari Kemenangan. Kemenangan atas hawa nafsu jasmani yang sedikit aku sayangkan karena mungkin hanya berlaku selama satu bulan berpuasa. Bulan Ramadhan.

Hari-hari berlebaran yang belum lama lalu ini, aku lewati dengan berkeliling di sekitar wilayah Kota Yogyakarta. Kota yang mulai bergerak modern, namun masih kental dengan budaya tradisional ini memang manyuguhkan hal yang mungkin sedikit berbeda. Pawai kendaraan bermotor di jalan-jalan kota, tidak hentinya membunyikan klakson dan orang ramai menggemakan takbir bersama-sama. Tidak lupa mercon atau kembang api dinyalakan sebagai juga tanda telah datangnya hari kemenangan. Jalan-jalan utama kota Jogja malam itu cukup padat.

May 11, 2009

Soal-soal Generasi, Organisasi, dan Regenerasi

"Setiap zaman akan melahirkan generasinya..."

Ungkapan di atas dapat merujuk pada soal-soal kepemimpinan, organisasi, dan regenerasi. Kelahiran setiap generasi berarti akan melanjutkan atau sama sekali menggantikan keberadaan generasi sebelumnya, dalam segala hal. Proses yang terjadi di dalam pergantian tersebut ialah regenerasi.

Di dalam sebuah organisasi mana pun, regenerasi menjadi sangat penting nilainya, tentu saja untuk kelangsungan hidup organisasi itu sendiri. Dia menjadi proses transformasi nilai, baik fisik maupun psikis. Nilai yang juga dapat diartikan sebagai visi, misi, dan tujuan sebuah organisasi. Idealnya selalu memiliki pertanggungjawaban terhadap kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya. Pun sewaktu-waktu, regenerasi dapat menjadi misi penyelamatan yang dibutuhkan ketika kepemimpinan organisasi yang lama telah renta dan tidak berkembang dengan baik.

May 07, 2009

Sejumput Cerita

Sudah lama tidak menulis, kali ini hanya sejumput cerita pendek...



Satu Langkah Kembali

Jeda waktu, aku sampai pada titik ini, garis batas merah jambu dan hitam. Titik dan garis di mana aku memenuhinya dengan bermacam kombinasi abjad, seluruh tanda, dan denyut nadi. Cahaya tidak akan datang menyilaukan, bahkan seterang menit-menit yang lalu, tidak mungkin. Dalam ini hanya ada sendiri aku, yang malah harus mencarinya, di antara desir hati dan romantisme. Tarik menarik antara dahulu dan kini, meraja di sekujur raga. Ketidakmungkinan bukan tidak mungkin nyata di hadapan mata, hadir ketika waktu menyihir, membelai, hingga membuat aku terlena pada zaman, pada masa-masa merah jambu.

“Bagaimana kelanjutan dan akhir goresan penamu nak?” Susunan kata itu tidak hentinya memekak, menemani telinga, ketika aku pada jeda waktu berada di beranda rumah. Dan selalu mengaum layaknya singa siap menerkam, ketika aku berada jauh di seberang melanjutkan goresan itu.

April 16, 2009

Festival PK dan PLK Provinsi DIY 2009


other photo at ayutasahaya.multiply.com

Selasa 14 April 2009, Taman Pintar Yogyakarta penuh oleh tingkah lugu dan lucu anak-anak difabel dari seluruh wilayah di Yogyakarta. Hari itu, Festival PK (Pendidikan Khusus) dan PLK (Pendidikan Layanan Khusus) 2009 kembali digelar.

Dalam festival itu, ada beberapa kategori acara yang dilombakan, seperti lomba modeling, music/band performance, lomba melukis, lomba pantomim, dan lomba seni tari tradisional.

March 29, 2009

Jogja DogDay 2009


other photo at ayutasahaya.multiply.com

Yogyakarta kembali menyelenggarakan Jogja DogDay 2009, Sabtu (28/3/2009). Acara berlangsung di pelataran gedung RRI Pro 2 Yogyakarta, Jl. Affandi, Gejayan, Yogyakarta. Mengambil tema "Hanya Untuk Anjing Sejati", acara ini dihadiri oleh warga dari dalam dan luar kota Yogyakarta. Mereka datang bersama dengan anjing peliharaannya.

Jogja DogDay 2009 menyertakan juga beberapa lomba di dalamnya. Diantaranya adalah lomba fashion show, lomba ketangkasan, dan lomba balap lari. Semua lomba tentu saja hanya boleh diikuti oleh para anjing, sementara si pemilik cukup menyemangati. Ada juga lomba mencopot kaos kaki yang sangat menghibur penonton ketika melihat para anjing berusaha mencopot kaos kakinya. Siapa cepat, dialah pemenangnya.

March 22, 2009

PDIP Siap Hadapi Kecurangan di Pemilu 2009


other photo at ayutasahaya.multiply.com

Berbagai permasalahan yang membelit pemilu tahun ini, membuat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) siap untuk menghadapi segala bentuk kecurangan.

Hal tersebut disampaikan oleh ketua umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dalam kampanye terbuka PDIP di Lapangan Denggung Sleman kemarin, Sabtu (21/3/2009).

"Apakah saudara-saudara siap menghadapi kecurangan-kecurangan?" tanya Megawati kepada ribuan kadernya. Ribuan massa PDIP pun dengan lantang menjawab, "Siap!".

Hujan Lebat, PDIP Tetap Kampanye


other photo at ayutasahaya.multiply.com

Meskipun diguyur hujan lebat, ribuan massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Yogyakarta tetap melakukan konvoi dan kampanye terbuka kemarin, Sabtu (21/3/2009). Lapangan Denggung di Kota Sleman yang menjadi tempat kampanye seakan berubah warna menjadi merah.

Dalam kampanye tersebut, pertunjukkan musik dangdut dihadirkan sambil menunggu kedatangan ketua umum mereka, Megawati Soekarnoputri. Diiringi bunyi drum dan kendang, ribuan massa PDIP rela basah kuyub dan larut bergoyang di tengah hujan lebat.

March 18, 2009

Amien Rais: Lanjut atau Berubah!

Ketua Majelis Pertimbangan Partai Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (MPP DPP PAN), Amien Rais, menyampaikan orasi dalam kampanye terbuka PAN di Alun-alun Selatan Yogyakarta, Rabu (18/3/2009).

Sebelum melakukan orasi, Amien menyempatkan diri menyapa pedagang dan membeli jajanan pasar yang disuguhkan kepadanya.

Dalam orasi singkatnya, Amien menyatakan bahwa dalam pemilu 2009 kali ini hanya ada dua pilihan, melanjutkan atau melakukan perubahan.

March 13, 2009

Calon Wakil Rakyat Harus Tingkatkan Elektabilitas

Seorang calon wakil rakyat tidak cukup hanya dikenal atau populer di mata masyarakat. Dia juga harus memiliki tingkat peluang elektabilitas atau keterpilihan yang tinggi. Hal ini dikatakan oleh Budi Santoso, direktur utama Cakrawala NUsantara Consultant saat menyampaikan hasil survey terhadap calon anggota DPD di Yogyakarta.

"Kalau mengenal itu kan berarti hanya populer, dan kalo populer tapi tidak dipilih kan sama saja," kata Budi di Gedung Pertemuan Sederhana, Jl. Kaliurang, Yogyakarta, Kamis (12/3/2009).

GKR Hemas Calon Anggota DPD Terpopuler di DIY

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Cakrawala Nusantara (CN) Consultant di Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hemas menjadi calon DPD yang paling populer di mata masyarakat. Hasil survey ini disampaikan oleh Budi Santoso, direktur utama CN Consultant di Gedung Pertemuan Sederhana, Jl Kaliurang, Yogyakarta, Kamis (12/3/2009).

"Dari 12 calon DPD yang maju dalam pemilu 2009, GKR Hemas menjadi yang paling populer," ujar Budi.

Survey tersebut mengambil 1065 responden yang tersebar di kabupaten dan kota Provinsi DIY. Pengambilan responden pun dilakukan secara acak, namun tetap proporsional sesuai jumlah pemilih tetap di masing-masing kabupaten/kota.

Berdasarkan hasil survey, GKR Hemas meraih 74,91% tingkat popularitas. Disusul Hafidz Asrom 7,69%, Afnan Hadikusumo 6,73%, dan Soetardjo Soerjogoeritno 4,81%. Sedangkan calon yang lain berkisar antara 1 sampai 2%.

March 11, 2009

Seluruh Parpol di DIY Selamat

Menurut Undang-undang No 10/2008, setiap partai politik (parpol) wajib melaporkan dana kampanye sebelum tanggal yang telah ditetapkan. Di Yogyakarta, 35 parpol peserta pemilu selamat dari ancaman pasal 138 undang-undang tersebut.

"Sudah bisa dipastikan, 35 pengurus parpol di DIY tidak ada satu pun yang akan didiskualifikasi, selamat dari ancaman pasal 138 UU No 10/2008," ujar Nasrulah, anggota KPU Provinsi DIY, di kantor KPU Provinsi DIY, Jl. Ipda Tut Harsono 47, Yogyakarta, Rabu (11/3/2009).

Partai Politik DIY Wajib Daftarkan Tim Pelaksana Kampanye

Kampanye pemilu partai politik (parpol) di Yogyakarta akan dimulai pada tanggal 17 Maret 2009 mendatang. KPU Provinsi DIY pun sudah menerbitkan jadwal kampanye masing-masing parpol. Selama hampir satu bulan, setiap parpol hanya mendapat jatah dua kali kampanye. Hal itu disampaikan Nasrullah, anggota KPU Provinsi DIY, di kantor KPU Provinsi DIY, Jl. Ipda Tut Harsono 47, Yogyakarta, Rabu (11/3/2009).

Nasrullah juga menyampaikan, sebelum masa kampanye datang setiap parpol harus mendaftarkan siapa tim pelaksana kampanyenya. "Sebagaimana ketentuan dalam UU No 10/2008, dan peraturan KPU No 19/2008, parpol dan calon anggota DPD wajib mendaftarkan tim pelaksana kampanyenya kepada KPU," ujarnya.

March 10, 2009

Marwoto: Jaksa Penuntut Umum Salah Kaprah

Sidang kasus kecelakaan Pesawat Garuda di Yogyakarta kembali digelar di Pengadilan Tinggi Sleman, Jl KRT Pringgodiningrat, Selasa (10/3/2009). Pada sidang kali ini terdakwa Marwoto membacakan pembelaannya terhadap tuntutan jaksa penuntut umum.

Marwoto menilai jaksa penuntut umum telah salah kaprah karena selama persidangan hanya membahas aspek bagaimana atau kronologi kecelakaan, bukan penyebab terjadinya kecelakaan.

"Selama ini dari dakwaan hingga tuntutan, jaksa penuntut umum hanya membahas bagaimana atau 'how' terjadinya kecelakaan, berdasarkan versi yang salah kaprah," ungkap Marwoto.

March 05, 2009

Ditemukan: Surat Suara Hanya Setengah Lembar!



Setelah empat hari melakukan penyortiran dan pelipatan surat suara, KPU Sleman mulai menemukan puluhan surat suara yang rusak. Sementara itu, jumlahnya belum diketahui karena baru akan diakumulasi esok hari.

"Ya belum dicatat, ini belum selesai, belum direkap, daripada bolak balik laporan, pekerjaan lainnya banyak," kata Muhadi, Kepala Sub Bagian Umum KPU Sleman di Gedung Kesenian Sleman, Kamis (5/3/09).

Caleg Tandatangani Kontrak Politik Dengan Difabel

Sejumlah caleg di Yogyakarta menandatangani kontrak politik dengan kaum difabel. Para caleg DPR maupun DPRD itu menyusun sendiri janji-janji mereka yang kemudian ditandatangani di hadapan puluhan difabel Yogyakarta.

Acara kontrak politik tersebut diselenggarakan oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel Yogyakarta (SIGAB DIY) di Gedung Oproom, Tridadi, Sleman (5/3/2009).

Dalam kontrak politiknya, para caleg secara umum berjanji untuk mengubah kebijakan anggaran negara yang selama ini dirasa timpang oleh kaum difabel. Pembentukan dan pengawalan terhadap peraturan daerah ataupun undang-undang yang berpihak pada kesetaraan hak difabel, juga menjadi agenda para calon wakil rakyat tersebut.

March 04, 2009

Upah Tenaga Pelipat Surat Suara Sesuaikan UMR Daerah

Penyortiran dan pelipatan surat suara untuk pemilu 2009, seakan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat. Harga yang dibayarkan untuk para pekerja itu pun berbeda di tiap daerahnya.

Di Yogyakarta, pekerja penyortir dan pelipat surat suara sudah disepakati akan mendapat imbalan Rp 75 per lembarnya. Angka itu meningkat jauh dibanding pemilu 2004 yang hanya Rp 15 per lembar. Sedangkan di beberapa daerah seperti Lombok, Garut, dan Lampung, untuk pemilu 2009, KPU setempat memberikan upah Rp 100 setiap lembarnya.

Tanggal 9 Maret, 100% Logistik Pemilu Sampai Di Yogyakarta

Proses pemilu 2009 telah sampai pada tahap penyebaran logistik. Pengadaan surat suara yang menjadi kewajiban KPU Pusat sudah mulai diterima oleh masing-masing daerah, termasuk Yogyakarta.

"Tiga jenis logistik yang menjadi kewajiban KPU Nasional yaitu segel, surat suara dan tinta, semuanya sudah diterima oleh kabupaten/kota," ujar Sapardiyono, ketua divisi teknis penyelenggaraan pemilu KPU Provinsi Yogyakarta, di kantor KPU Provinsi Yogyakarta, Jl. Ipda Tut Harsono 47, Yogyakarta, Rabu (04/03/09).

Tujuh Partai di DIY Dukung Sultan Jadi Presiden

Tujuh partai politik di Yogyakarta mengeluarkan pernyataan sikap bersama untuk mendukung Sultan menjadi presiden. Ketujuh partai tersebut adalah Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Patriot, dan Partai Damai Sejahtera (PDS).

Tergabung dalam Kaukus Politisi Muda Lintas Partai, perwakilan tujuh partai tersebut berkumpul untuk menandatangani pernyataan bersama di Hotel Santika Yogyakarta, Rabu (04/03/09).

Partai Golkar yang diwakili oleh wakil sekretaris DPD tingkat 1 DIY, Purnomo Suharintoyo, menyatakan bahwa Golkar secara resmi belum punya calon presiden.

March 03, 2009

Kualitas Pemilu 2009 Diprediksi Merosot

Kualitas pemilu 2009 diprediksi merosot dibanding pemilu 1999 dan 2004. Hal itu diungkap oleh Arie Sudjito, pengamat politik UGM di gedung kantor PWI Yogyakarta, Jl. Gambiran 45 Yogyakarta, Selasa (03/03/09)

Faktor yang cukup berperan menurunkan kualitas pemilu tahun ini adalah keputusan Mahkamah Konstitusi tentang sistem suara terbanyak. Menurut Arie, sistem suara terbanyak berimplikasi terhadap banyak hal, salah satunya money politic.

"Gara-gara MK membuat keputusan suara terbanyak itu sebetulnya melanggengkan praktek money politic, karena tidak ada kontrol dari parpol untuk menindak calegnya".

March 02, 2009

KPUD Sleman Mulai Melipat Kertas Suara


other photo at ayutasahaya.multiply.com

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sleman mulai hari ini melakukan proses pelipatan kertas suara. Pelipatan kertas suara dikerjakan oleh sekitar 400 orang di Gedung Kesenian Sleman, Jl. Merbabu, Beran, Sleman Yogyakarta, Senin (02/03/2009).

"Sebelumnya pada bulan januari, kami mengadakan pembentukan pokja atau kelompok kerja untuk menangani pelipatan dan packing kertas suara, kami bentuk atas dasar perintah ketua KPU dan sudah diberi SK," ungkap Muhadi, Kepala Sub Bagian Umum KPUD Sleman.

February 27, 2009

BEM SI Tuntut Realisasi UU Tipikor

Menuntut realisasi Rancangan Undang-undang Tindak Pidana Korupsi (RUU Tipikor), elemen mahasiswa Yogyakarta yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran UGM, Bulaksumur, Yogyakarta (27/02/09)

Aksi hari ini dilakukan serentak di seluruh universitas di Indonesia. Dalam aksinya, mereka menuntut segera disahkannya UU Tipikor yang telah tertunda selama tiga tahun ini.

"Ketika tahun 2006 itu pengadilan tipikor ditiadakan selama tiga tahun. Hari ini merupakan tahun 2009, jadi tiga tahun telah berselang," ujar Subhan, koordinator aksi.

Unjuk rasa juga diwarnai dengan aksi teatrikal simulasi pengadilan korupsi. Dalam aksi teatrikalnya, jaksa penuntut berhasil memenjarakan terdakwa korupsi.

"Tipikor itu sangat dibutuhkan pengadilan terutama pengadilan-pengadilan korupsi," kata Subhan di tengah-tengah aksi teatrikal.

Subhan menilai RUU Tipikor seakan-akan tenggelam gaungnya karena tahun ini bertepatan dengan tahun pemilu. "Para partai, anggota DPR/MPR, mereka itu membentuk isu-isu pemilu, tapi tipikor itu sama sekali tidak dibahas."

Lewat aksi hari ini, para mahasiswa terus mengawal proses pembahasan RUU Tipikor. Mereka meminta para anggota pansus RUU ini tidak terlena dengan pemilu.

"Kami sendiri menargetkan sekitar bulan enam (harus disahkan). Jadi jangan sampai para dewan itu sibuk dengan partai mereka, sehingga tipikor ini tidak terbentuk," pungkas Subhan.(dny)

February 26, 2009

Jaksa Agung Tanggapi Polemik Kemas dan Salim

Hujan kritik kepada Kejaksaan Agung terkait polemik pengangkatan Kemas Yahya Rahman dan M. Salim, akhirnya membuat Jaksa Agung Hendarman Supandji angkat bicara. Ia menjelaskan garis besar kronologinya kepada wartawan usai meresmikan Gedung Kantor Kejaksaan Tinggi Yogyakarta, Jl. Sukonandi No. 4, Yogyakarta (26/02/09).

"Pak Kemas sebagai staf ahli tidak memperoleh pekerjaan, tidak ada pekerjaan yang saya berikan kepada pak Kemas," ungkap Hendarman.

Menurutnya, hampir sepuluh bulan dari Maret hingga Desember 2008, Kemas Yahya dan M. Salim terkesan menganggur. Sehingga, ia wajib memberikan suatu pekerjaan lebih. Bahkan diceritakan Hendarman, Kemas Yahya sampai bertanya dan meminta pekerjaan darinya.

"Pak apakah saya didiamkan begini saja, tidak diberi suatu pekerjaan, hak saya mana pak?" tutur Hendarman menirukan kata-kata Kemas Yahya.

"Kalau saya tidak berikan pekerjaan, saya melanggar HAM, UUD 45 pasal 28D," ujar Hendarman kepada wartawan. "Jadi saya sebagai pimpinan kejaksaan wajib hukumnya untuk memberikan pekerjaan. Maka yang paling cocok adalah di Jampidsus," lanjutnya.

Penempatan Kemas Yahya dan M. Salim di jajaran pemantau penanganan kasus korupsi diakui Hendarman bercermin dari jam terbang dan kredibilitas mereka berdua. Akhirnya pengangkatan itu berujung hujan kritik, dan sebelum menimbulkan polemik lebih jauh, kejaksaan menarik kembali keputusannya.

"Kan sekarang menjadi masalah, menjadi kontroversial yang benar dan yang salah. Oke, saya slow down saja daripada menimbulkan masalah baru kebijaksanaan saya ini," pungkas Hendarman.(dny)

Hendarman Supandji: ICW Jangan Hanya Ngintip-ngintip Saja.



Tajamnya kritik Indonesia Corruption Watch (ICW) terhadap Kejaksaan Agung terkait prestasinya dalam pemberantasan korupsi, ditanggapi sinis oleh Jaksa Agung, Hendarman Supandji.

"Jangan ICW itu hanya ngintip-ngintip saja, lalu keluar membikin suatu pernyataan yang belum tentu benar," ujar Hendarman usai meresmikan Gedung Kantor Kejaksaan Tinggi Yogyakarta, Jl. Sukonandi No. 4, Yogyakarta (26/02/09).

Hendarman memaparkan, laporan kejaksaan kepada DPR terkait kasus korupsi meningkat lebih dari seratus persen. Sampai saat ini, jumlah laporannya meningkat dari 800 menjadi 1300. Dirinya juga menjelaskan sudah triliyunan uang negara yang mereka selamatkan.

"Ribuan meningkat laporan saya ke DPR itu dan diamini. Uang pengganti yang kita selamatkan, triliyun!!" seru Hendarman.

Dalam konferensi persnya, mantan Jaksa Tinggi Yogyakarta ini meminta kepada semua pihak untuk melihat lembaga kejaksaan lebih dalam lagi. "Faktanya seperti apa silakan cek, saya terbuka, masuklah, lihatlah, jangan mengintip-intip saja."

Kepada para kritikus Kejaksaan Agung, Hendarman pun balik mengkritik. "Mereka kan tidak lihat hasilnya, cobalah dilihat."

"Saya terimakasih dengan kritik, untuk membangun kejaksaan lebih kuat lagi di dalam pelayanan publik. Saya tidak alergi dengan kritik," tandas Hendarman.
(dny)

February 25, 2009

Tujuh Parpol di Yogyakarta Terancam Tidak Ikut Pemilu

Tujuh partai politik di Yogyakarta terancam tidak ikut pemilu karena belum menyerahkan rekening dan laporan awal dana kampanye. Hal itu disampaikan oleh Mohammad Najib, Divisi Humas KPU DIY di ruang Media Center KPU Yogyakarta (25/02/09).

"Partai politik yang tidak menyampaikan laporannya beserta rekening akan dikenai sanksi berupa pembatalan sebagai peserta pemilu," ungkap Najib.

Ketujuh partai politik itu adalah Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Republikan, Partai Merdeka, Partai Buruh, dan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK).

Disampaikan pula oleh Najib, batas akhir pelaporan rekening dan dana kampanye ditetapkan pada tanggal 9 Maret 2009. Partai politik yang tidak melapor hingga batas akhir dipastikan bakal kehilangan suara di Yogyakarta.

"Tentu saja sesuai levelnya, kalau yang tidak mengirim itu level pengurus di DIY, ya mereka tidak bisa ikut pemilu di DIY".

Berkaitan dengan hal ini, KPU Provinsi DIY akan segera memberikan peringatan. "Kita akan segera mengirim surat ke partai yang belum lengkap, kalau bisa hari ini," tandas Najib.
(dny)

February 23, 2009

Sapardi Djoko Damono: Sastra Indonesia Tidak Berkembang


ohter photo at ayutasahaya.multiply.com

Sapardi Djoko Damono mengkritik banyak sastrawan tidak memperhatikan unsur bahasa dalam satiap karyanya. Hal itu ia sampaikan dalam acara "Menulis Puisi Cinta bersama Sapardi Djoko Damono" yang berlangsung di Kafe Momento, Prayan, Sleman, Yogyakarta (21/02/09).

"Bagi saya, yang paling bisa dikritik itu bahasa. Bahasa itu mendukung isi, dan sastra itu bukan perkara isi saja," ujar sastrawan kawakan ini.

Menurutnya, sastrawan harus tahu betul cara memanfaatkan bahasa. "Bahasa kita itu sedang digodok, ibarat air, dia belum matang. Kalau kita tidak benar meminumnya, akan sakit perut. Jadi kita harus tahu betul bagaimana memanfaatkan bahasa sebaik-baiknya".

Namun, Sapardi menilai banyak sastrawan atau pengarang sekarang yang belum mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Itu adalah kelemahan yang luar biasa, dan baginya seseorang tidak bisa menjadi sastrawan jika tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik.

"Seorang sastrawan itu harus memiliki kemampuan keterampilan berbahasa lebih tinggi dari orang biasa," ujarnya ketika diwawancarai Detikcom.

Penulis puisi "Aku Ingin" ini memandang, sastra Indonesia tidak akan berkembang ketika sastrawannya sendiri tidak memperhatikan perkembangan bahasa. "Banyak sastrawan yang malas mengembangkan kemampuan berbahasa," kritiknya.

"Maka sastra kita tidak akan beranjak kemana-mana, stak di sini saja," tandas sastrawan yang pada bulan depan berencana menerbitkan dua buku dari kumpulan puisinya.
(dny)

Caleg Jangan Asal 'Jual Diri'

Tidak jarang kita melihat baliho atau spanduk para caleg dibuat sedemikian rupa agar menarik mata masyarakat. Bahkan para caleg menyandingkan foto mereka bersama dengan sanak keluarganya yang seorang publik figur atau dengan bintang terkenal lainnya, meskipun tidak ada hubungannya.

Hal tersebut menunjukkan kurangnya tingkat pemahaman para caleg kita tentang konteks dan substansi politik saat ini. Demikian menurut pandangan Dr. Kuskridho Ambardi, dalam acara bedah buku Marketing Politik karya Firmanzah Ph.D, di Ruang Seminar Fakultas Isipol UGM (16/02/09).

"Dengan memasang foto kerabat dekat atau orang terkenal yang tidak berkaitan dengan substansi politik, lalu di mana hubungannya?" ujar Kuskridho.

Sementara itu, Arif Noor Hartanto, Ketua DPRD Kota Yogyakarta yang juga menjadi nara sumber menilai para caleg masih berpikir bahwa politik adalah bisnis, yang penting terpilih. Menurutnya lagi, disinilah marketing politik perlu dipahami benar oleh setiap caleg. "Marketing politik menjadi sebuah keharusan untuk kita bisa mengarungi dunia politik saat ini, dengan segala tuntutannya."

Menurut Arif, trend politik dewasa ini adalah programatik. Masyarakat membutuhkan para caleg yang secara jelas dan jujur memaparkan visi misi dan realisasi programnya. "Oleh karena itu perlu ada persamaan cara pandang institusional dalam hal ini partai politik dengan cara pandang personal caleg," ungkap Arif. Persamaan cara pandang ini yang dirasa masih kurang sehingga caleg terkesan bergerak sendiri dan terjebak dalam politik bisnis, untuk kemudian menerbitkan baliho dan spanduk kampanye yang tidak relevan.

Di akhir paparannya Kuskridho menilai berbagai arus dan pergerakan politik saat ini berujung kepada masyarakat sebagai pemilih. Pun sudah saatnya pemilih dikembalikan posisinya yang selama ini hanya dijadikan sebagai obyek politik. "Saatnya mengembalikan pemilih sebagai subyek politik, bukan obyek politik," tandas Kuskridho.
(dny)

Ribuan Pemilih Difabel Yogyakarta Tidak Terdaftar

Dalam pemilu 2009 ini, lebih dari 10000 pemilih difabel di Yogyakarta tidak terdaftar. Data ini disampaikan direktur SIGAB, Joni Yulianto.

"Difabel yang punya hak pilih sebenarnya sekitar 25000 di Yogyakarta, tetapi untuk berapa jumlah yang terdaftar hanya sekitar 50%-nya," ujarnya di tengah acara Deklarasi Politik Bela Bangsa, di Taman Kuliner, Condong Catur, Yogyakarta (21/02/09).

Menurutnya, permasalahan banyak terletak di pendataan dan pendidikan politik para di fabel sendiri. "Memang masalah kultur, difabel masih banyak yang diperlakukan secara over protektif di rumah, sehingga banyak dari mereka yang belum terdaftar". Dari fakta ini dia menilai pentingnya pendidikan politik untuk semua, termasuk kaum difabel.

Di sisi lain, Joni menyalahkan kinerja KPU dan BPS sebagai lembaga yang berwenang melakukan pendataan. "Banyak pendataan yang di beberapa daerah tidak melakukan pendataan ulang, hanya berdasarkan data yang sudah ada". Menurut Joni, ketika hal itu dikonfirmasi, KPU dan BPS malah saling melempar tanggungjawab. "Kita sudah menyampaikan masukan melalui panwaslu kepada KPU, kepada juga BPS sebagai pelaksana pendataan, masalahnya mereka saling melempar tanggung jawab," cetusnya.

Hal ini menurut Joni mengulangi apa yang terjadi pada pemilu tahun 2004 yang lalu di mana banyak difabel yang tidak terdaftar. Joni berharap dirinya yang sekarang juga belum terdaftar sebagai pemilih dapat didata ulang oleh lembaga terkait dan boleh ikut mencontreng.
(dny)

Caleg Harus Miliki Perspektif Difabel



Ratusan difabel seprovinsi DIY menghadiri Deklarasi Politik Bela Bangsa yang diselenggarakan SIGAB DIY dan Yayasan Tifa. Acara berlangsung di Taman Kuliner, Condong Catur, Yogyakarta, Sabtu (21/02/2009).

Joni Yulianto, direktur SIGAB sekaligus koordinator acara, menyampaikan bahwa acara ini bertujuan untuk menggalang dukungan dan komitmen caleg terhadap kaum difabel.

Dia juga menilai, bahwa setiap ada pemilihan wakil rakyat, isu difabel selalu dianggap sebagai isu yang tidak menarik. "Dari pemilu ke pemilu isu-isu seperti perempuan, anak, buruh, itu banyak dibawa oleh mereka, tapi sama sekali tidak pernah caleg membawa kepentingan difabel".

Rencananya beberapa caleg dari DIY akan hadir di acara ini dan konsep deklarasi ini akan ditandatangani bersama untuk kemudian menghasilkan kontrak politik. "Undangan kita sebar secara terbuka kepada parpol, kemudian konsep deklarasi ini akan ditandatangani bersama oleh difabel dan oleh caleg," ungkap Joni. "Kontrak politik itu bukan artinya difabel memilih mereka, tapi bahwa ketika mereka terpilih ini yang akan mereka perjuangkan," tambahnya.

Dari deklarasi ini para kaum difabel berharap terwujudnya satu pemerintahan baru yang lebih akomodatif terhadap kepentingan dan hak-hak difabel. Hal itu dapat terjadi ketika para caleg memiliki perspektif difabel. "Kita berharap agar perpektif difabel ini dipunyai oleh caleg, dan dari lembaga legislatif kebijakan akan lahir, anggaran akan disusun di situ," tandas Joni.
(dny)

February 20, 2009

GKR Hemas: Parardhya Mengecilkan Arti Keistimewaan



Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas memandang, pemerintah lewat konsep Parardhya yang akan diterapkan di Yogyakarta tidak melihat bagaimana aspirasi masyarakat Yogyakarta. Begitu ia sampaikan selepas acara diskusi publik "Prospek Keterwakilan Politik Perempuan di Pemilu 2009 Pasca Putusan MK" di Gedung PAU Univ. Gadjah Mada, Bulaksumur, Yogyakarta (20/02/09).

"Yang lebih paling kami sesalkan adalah dengan kata 'pemilihan', dan ini sebetulnya tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat Yogya, yang jelas dengan Parardhya sendiri sebetulnya justru mengecilkan arti keistimewaan," ujarnya. Menurutnya, saat ini beberapa fraksi di DPR sudah menyetujui adanya penyempurnaan, dan aspirasi masyarakat sesungguhnya adalah gubernur melekat pada Sultan, jadi tidak ada pemilihan.

GKR Hemas menilai semua hasil penelitian yang dilakukan pemerintah tentang konsep Parardhya bukan berasal dari masyarakat. "Dari data yang diambil, itu bukan data aspirasi masyarakat Yogya, tapi adalah hasil dari penelitian atau diskusi para akademisi. Ini sebenarnya yang saya sangat sayangkan".

Dengan begitu kerja DPR pun tidak luput dari penilaian Ratu Tanah Jawa ini, "Saya kira ini sesuatu yang perlu diperhatikan khususnya anggota DPR, yang menjadi aspirasi daripada masyarakat". Pembahasan tentang keistimewaan Yogyakarta sendiri akan digelar kembali pada tanggal 3 Maret 2009 mendatang.
(dny)

February 12, 2009

Massa FPI Geruduk PN Yogyakarta


ohter photo at ayutasahaya.multiply.com

Demi membela anggotanya, Emiwati, yang menjadi korban penipuan, puluhan massa Front Pembela Islam (FPI) Yogyakarta menghadiri kasus utang piutang di Pengadilan Negeri Yogyakarta (12/02/09)

Puluhan massa FPI tersebut menuntut agar terdakwa Ismayawati segera ditahan. Menurut Bambang Raharjo, koordinator FPI Yogyakarta, persidangan Ismayawati yang dimulai sekitar bulan Agustus 2008 banyak kejanggalan dan ketidakwajaran yang membuat terdakwa masih bebas sampai saat ini. "Untuk menahan terdakwa sudah ada buktinya, sudah cukup," ujarnya.

Christo Arvian, salah satu kuasa hukum korban menjelaskan masksud kedatangan massa FPI tersebut. "Kami memonitoring jalannya sidang Maya dengan Emi sesuai dengan koridor keadilan yang kita harapkan," ungkapnya.

Emiwati melaporkan Ismayawati pada akhir September terkait hutang yang tak kunjung dilunasi. Hampir mencapai angka 4 milyar, Maya meminjam uang Emi untuk melancarkan usahanya di bidang elektronik. Namun, pada jangka waktu yang telah ditentukan bersama, Maya tidak dapat melunasinya.

Sidang kali ini menghadirkan dan membacakan keterangan dua saksi: Sulistiawati dan Slamet Riyanto. Majelis Hakim yang diketuai oleh Rangkilemba, SH. memutuskan menunda persidangan selama satu minggu, dilanjutkan pada hari Kamis (19/02/09) minggu depan. Hal ini karena jaksa penuntut umum, M. Arief, SH. hendak mendatangkan kembali satu saksi.

"Kita terus mendukung, terus memantau," tandas Bambang seusai persidangan. Riuh rendah massa FPI membubarkan diri.
(dny)

Feminisme Psikoanalisis

Ini waktu belajar tentang feminisme di mata kuliah Sosiologi Gender Oktober 2008...

Pengertian dan sejarah feminisme

Pada dasarnya –isme adalah sebuah paham atau aliran. Jika melekat dengan kata di depannya maka dapat diartikan itu merupakan paham atau aliran yang mengacu atau mengambil sudut pandang dari kata di depannya.

Feminisme bermula dari unsur kata feminin, dalam bahasa Perancis, feminine yang adalah sebuah kata sifat atau adjektif yang berarti "kewanitaan" atau menunjukkan sifat perempuan. Dalam arti luas berarti perempuan atau segala sesuatu yang berkaitan dengan kewanitaan, bukan seks namun lebih kepada prilaku, sifat dan pola pikir. Dapat diartikan bahwa feminisme adalah paham atau aliran yang mengacu atau berangkat dari pemikiran-pemikiran atas masalah kewanitaan.
Secara garis dunia, feminisme sebagai gerakan dibagi menjadi dua kutub besar waktu, yaitu :

-Gelombang pertama : Tahun 1785 muncul perkumpulan ilmiah untuk perempuan di Belanda. Kemudian perkumpulan-perkumpulan selanjutnya menjamur sampai ke Amerika. Kata Feminisme sendiri baru lahir sekitar tahun 1837 oleh seorang Charles Fourier. Perjuangan terus berlanjut dengan terbitnya sebuah ulasan John Stuart Mill yang terpublikasi dengan judul The Subjection of Woman. Menjamurnya perjuangan ini menandai lahirnya Feminisme gelombang pertama.

Pergerakan feminis pada gelombang pertama memang terbatas pada kritik terhadap pemasungan hak dan kebebasan perempuan kala itu. Masyarakat Eropa yang umumnya masih berbentuk kerajaan, sangatlah patriarkal. Perempuan selalu tersubordinasi dan menjadi pihak kedua di bawah laki-laki. Hal ini diperparah dengan adanya intervensi agama bahwa, perempuan harus tunduk terhadap laki-laki. Dari sini pergerakan perempuan Eropa naik kepermukaan menuntut keadilan. Berbagai macam karya tulis pun mewarnai perjuangan perempuan kala itu untuk mendapat perlakuan dan hak serta kewajiban yang sama dengan lawan jenisnya, laki-laki.

-Gelombang kedua : Melejit setelah berakhirnya perang dunia kedua, dan terbebasnya negara-negara jajahan dari kerajaan-kerajaan Eropa. Pemikiran-pemikiran akan feminisme terus berkembang. Fokus kala itu berubah merujuk pada nasib perempuan-perempuan dunia ketiga (bangsa jajahan, Afrika).

Bisu dan bungkamnya perempuan dunia ketiga, memotivasi perempuan kulit putih dengan pemikirannya untuk membebaskan dan menyadarkan keberadaan, serta menuntut keadilan. Apalagi, para nasionalis dan pemimpin-pimimpin negara kala itu didominasi oleh laki-laki, para feminis berpikir, ini harus dikritisi. Termasuk mengenaskannya keadaan perempuan-perempuan terjajah oleh karena juga dominasi laki-laki. Meluasnya pemikiran dan lahirnya para feminis dengan berbagai macam perspektif, menjadi juga efek domino bagi lahirnya gerakan dan aliran feminisme yang mengambil sudut pandang tertentu yang terus berkembang sampai dengan detik ini. Liberal, Radikal, Marxis Sosialis, Psikoanalisis, Eksistensialis, Posmodern, Multikultural, dan yang terakhir berkembang adalah Ekofeminisme.

Pengertian dan sejarah psikoanalisis
Psikoanalisis dari segi kata terdiri atas unsur kata psikologi dan analisis. Psikologi merupakan ilmu yang mengkaji sisi kejiwaan, sikap dan sifat serta emosi manusia. Psikologi sebagai ilmu telah jauh dan lama dikenal juga sebagai obat dan terapi terhadap masalah-masalah kejiwaan manusia. Hipotesis pokok psikoanalisis menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebagian besar ditentukan oleh motif-motif tak sadar.

Psikoanalisis sendiri merupakan ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan pengikutnya sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Psikoanalisis adalah aliran yang mendalami jiwa manusia sampai ke alam bawah sadarnya. Dia mencari sebab perilaku manusia pada dinamika jauh di dalam diri manusia. Karena itu psikoanalisis disebut juga psikologi mendalam.


Freud memfokuskan analisisnya bahwa prilaku manusia dewasa tidak lepas dari pengaruh atau pangalaman pada masa kanak-kanaknya. Lebih jauh lagi, pengalaman tersebut kuat mempengaruhi kepribadian dan tingkah laku manusia kelak. Menurut Freud, masa kanak-kanak mengalami proses psikoseksual yang jelas. Kemudian gender manusia dewasa adalah tergantung bagaimana si anak melewati proses tersebut. Feminisme psikoanalisis memang memberatkan teori atau mengambil konsep Psikoanalisis dari Freud, meskipun ada beberapa tokoh feminis psikoanalisis yang mengkritisi beberapa pemikiran Freud.


Freud beranggapan bahwa seksualitas manusia sudah ada dan berkembang sejak ia dilahirkan. Sejak lahir, seorang anak memiliki energi atau gairah seksual yang dinamai oleh Freud sebagai libido. Namun, libido awal belum merujuk pada satu obyek dan belum terlokalisasi pada satu area tubuh. Baru pada perkembangan anak terdapat tahapan-tahapan yang akhirnya membuat libido menjadi terarah atau terorganisir ke bagian kelamin.


Pemikiran Freud tentang psikoanalisis juga tidak beranjak dari perkembangan anak secara seksual dan bekerjanya ketidaksadaran jiwa juga prilaku manusia. Ini yang kemudian membuat pemikiran Freud dianggap mengganggu karena membicarakan hal yang tabu kala itu (seks, alat kelamin). Namun pemikiran Freud juga dianggap revolusioner karena dobrakannya.


Feminisme Psikoanalisis
Setiap aliran feminisme yang telah terjabar menawarkan solusi konkrit terhadap permasalahan atau opresi yang dialami oleh perempuan dalam status sosialnya di masyarakat. Berbeda dengan psikoanalisis, aliran feminisme yang lain bergerak dalam ranah makro atau di luar individu. Sementar itu, psikoanalisis menarik diri dan fokus pada permasalahan mikro, dalam arti setiap ketidakadilan gender yang hadir saat ini merupakan pengaruh dari psikologis manusia, yang dipengaruhi juga dengan kuat oleh pengalaman dan perkembangan pribadi masa kecilnya.

Feminisme psikoanalisis juga lahir berkat banyaknya pemikiran dan pertanyaan terhadap hal-hal di luar praksis atau munculnya pertanyaan-pertanyaan yang bersifat epistemologis (mendasar). Mempertanyakan pemikiran, bagi para feminis psikoanalisis dapat merombak referensi yang telah terbentuk oleh karena konstruksi sosial masyarakat. Perombakan bisa jauh masuk ke dalam pola pikir masyarakat yang mengkonstruksi pribadi dan pemikiran seseorang. Karena bagaimanapun pola pikir dan kejiwaan akan mempengaruhi tingkah laku pada level praksis.


Para feminis yang mengambil sudut pandang ini, melihat adanya kecocokan dengan teori yang dikemukakan oleh Freud. Dalam teori Freud sendiri ada beberapa tahapan perkembangan psikoseksual masa kanak-kanak :


1. Tahap oral : Pada masa ini bayi mendapatkan kenikmatan dengan menghisap payudara ibunya dan ibu jarinya sendiri atau memasukkan benda apapun ke dalam mulutnya. Masa ini berlangsung sampai dengan umur 2 tahun.

2. Tahap anal : Tahap di mana anak merasakan kenikmatan ketika mengendalikan pengeluaran kotoran dari lubang pengeluarannya, baik alat kelamin maupun anusnya.


3. Tahap phallis : Berlangsung antara umur 3-5 tahun. Anak mulai merasakan kenikmatan kala mempermainkan atau mendapatkan sentuhan pada alat kelaminnya. Laki-laki pada penis dan perempuan pada klitorisnya.

Pada tahapan ini terjadi juga apa yang disebut Freud sebagai kompleks Oedipus. Kompleks Oedipus merupakan proses permusuhan terhadap orangtua sejenis. Secara gamblang, si anak akan memusuhi orangtua sejenisnya untuk mendapatkan cinta dan perhatian dari orangtua lawan jenisnya. Biasanya kompleks Oedipus diikuti oleh fenomena castraction anxiety pada laki-laki (takut di kebiri, kastrasi) dan penis envy pada perempuan(cemburu pada alat kelamin laki2). Kempleks Oedipus inilah, yang ketika berhasil atau tidaknya dilalui oleh sang anak, akan kuat mempengaruhi konsep gender kelak ia dewasa.
Kompleks Oedipus yang terjadi pada anak laki-laki dengan perempuan berbeda. Anak laki-laki berusaha mendapatkan cinta ibunya, karena telah merawatnya, dan berusaha mengambil itu dari sang ayah. Anak laki-laki berusaha membunuh sang ayah untuk mendapatkan cinta dan perhatian tersebut. Freud beranggapan bahwa ketika anak laki-laki melihat ibu mereka atau perempuan lainnya telanjang dan tidak memiliki penis, mereka berspekulasi bahwa ayahnyalah yang memotong penis tersebut (kastrasi). Timbul fenomena ‘takut dikebiri’ dan akhirnya anak laki-laki tunduk dan mengikuti hukum ayahnya. Proses ini membunuh rasa cinta si anak terhadap ibunya dan mengantarkannya masuk pada tahap latency.
Di pihak perempuan, kompleks Oedipus yang dialaminya berbeda. Mereka tidak mengalami ketakutan akan dikebiri, karena pada dasarnya mereka sadar juga telah sama dengan ibunya ketika melihat vaginanya dan tidak adanya penis. Dalam kepala Freud ini malah yang menyebabkan anak perempuan menjauhi ibunya, merasa jijik dan berusaha mendapatkan cinta dari sang ayah atau lelaki lainnya kelak. Perempuan harus mengalihkan cinta awalnya terhadap ibu, kepada ayahnya. Proses pengalihan cinta ini yang mendapat garis bawah dari Freud, bahwa akan sangat mempengaruhi perkembangan perempuan kelak. Terjadi juga kecemburuan terhadap penis (penis envy) ketika anak perempuan sadar mereka tidak memiliki penis seperti ayah dan laki-laki lainnya yang mereka anggap superior. Untuk mendapatkan cinta dari ayahnya, perempuan mengambil nilai-nilai dari ibunya (lemah lembut, penuh kasih sayang, melayani, dsb.)

4. Tahap latency : Pada tahap ini, anak berhenti dalam proses psikoseksualnya, berbagai faktornya adalah adanya ketakutan akan dikebiri, terstimulasi oleh dunia luar, oleh sekitar dan pergaulan, sehingga lupa akan kompleks Oedipusnya.


5. Tahap genital : Munculnya kembali libido atau energi seksual yang pada masa ini beranjak kepada jenis kelamin yang berbeda. Mulai menyukai lawan jenisnya.


Adanya fenomena kastrasi pada anak laki-laki di masa kompleks Oedipus menjadikan mereka tunduk pada hukum ayah. Secara tidak disadari, kastrasi membuat anak laki-laki menjadi bersabar untuk mendapatkan cinta selain dari ibunya. Ini yang menjadikan laki-laki adalah lebih matang, dapat mengendalikan diri, mengikuti setiap aturan yang berlaku dan memiliki moralitas. Kesemua hal ini diasumsikan oleh Freud sebagai bekal awal laki-laki terjun ke masyarakat, berpolitik dan organisasi, superego kuat terbentuk. Pembentukan superego yang merupakan internalisasi dari sang ayah sebetulnya merupakan sebuah warisan patriarkal yang tidak disadari.


Berbeda dengan perempuan yang tidak mengalami ketakutan akan kastrasi, nilai-nilai dan hukum ayah tidak teradopsi. Perempuan kemudian sibuk memperindah dirinya sendiri selain untuk memikat hati lawan jenisnya, juga menutupi kekurangannya karena tidak memiliki penis. Mereka tidak memiliki juga motivasi untuk bisa melawan terhadap keadaan ini. Implikasinya adalah superego yang tidak terbentuk yang pada laki-laki menjadi juga salah satu bekal untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat.


Daftar Literatur
Arivia, Gadis. “Feminisme: Sebuah Kata Hati”. Penerbit Buku Kompas: Jakarta. 2006.
Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought. Westview Press: Colorado. Terjemahan Aquarini Priyatna Prabasmoro (edisi Indonesia: Jalasutra). 1998.
Brooks, Ann. Posfeminisme & Cuktural Studies. Routledge: London. (edisi Indonesia: Jalasutra). 1997.
http://esterlianawati.wordpress.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme/
http://grelovejogja.wordpress.com/2007/02/13/feminisme-menurut-hamka/

January 26, 2009

Anak-anak SDN 1 Kampung Melayu Tangerang

Pikir jauh tertarik pada suatu masa, suatu sore beberapa hari sebelum tahun 2008 menghembuskan nafasnya...

Dimulai dengan, pada suatu hari...

Ayahku memiliki sebuah usaha, tepatnya usaha primer ayahku. Sebuah rumah makan di tepi laut, utara kota Tangerang. Ketika hari Natal yang lalu, Desember 2008, aku pulang ke Tangerang (biasanya selalu merayakan di Yogyakarta, bersama teman-teman). Berhubung sudah di ultimatum dan harus pulang, pulanglah aku ke tempat kelahiran. Di Tangerang, aku selalu mengunjungi tempat usaha ayahku itu, untuk sekedar menginap dan bantu-bantu sedikit melayani para pengunjung. Kira-kira tanggal 22 Desember 2008, aku ada di sana sampai sore hari 23 Desember 2008. Hari itu cukup ramai mengingat sudah mulai beranjak libur anak-anak sekolah, juga mungkin dikarenakan tidak ada lain tempat wisata di wilayah Tangerang selain seribu Mall dan pusat perbelanjaan. Maklum, kota industri, cukup menjemukan. Setelah menghabiskan satu malam di sana, pulang aku ke rumah, tidak sabar bertemu sanak keluarga yang lain.

Nah, ini inti ceritanya. Pada saat pulang, aku naik angkutan kota (angkot), sejenis mobil colt atau minibus. Angkot ini full musik, beberapa artis pop ibukota terdengar suaranya. Ungu, ADA Band, ST12, D'Massiv, di antaranya. Kebetulan sore hari, dan aku hanya sendiri di mobil itu. Beberapa menit berjalan, angkot tiba di depan salah satu sekolah di daerah Kampung Melayu, Tangerang. Kalau tidak salah lihat, merk sekolahnya, SDN 1 Kampung Melayu. Menunggu si sopir di pinggir jalan, menanti penumpang. Menit demi menit terlalui dengan menunggu, hal yang mungkin dirasa oleh beberapa orang sebagai sesuatu yang menjengkelkan. Apalagi ketika kita butuh waktu cepat, dan sangat terburu-buru. Kali ini aku cukup menikmati, karena tidak terburu-buru juga. Mungkin para penumpang yang sekiranya mengalami hal yang sama, perlu mengarahkan pikir di mana ketika kita menjadi si supir, yang butuh uang untuk disetorkan, memikirkan pula anak istri di rumah..hehee..tidak berlebihan bukan?

Para penumpang yang ditunggu datang juga. Siapa mereka?? Ternyata sekelompok bocah-bocah SD tersebut, SDN 1 Kampung Melayu, Tangerang. Riuh ocehan mereka menggema di dalam angkutan ini. "Ayo dek..naik...masih kosong..cepet..cepet!!!" teriak si supir dengan bersemangat. "Woy, ayo cepet, dih lama banget elu mah!!" salah satu anak menyuruh temannya untuk naik, dengan logat pesisir utara Jakarta atau Tangerang, tersenyum kecut juga aku mendengarnya, lucu. Tidak lama, angkot itu penuh oleh anak-anak sekolah dasar. Ribut mereka membicarakan segala hal yang mereka alami hari ini. Diam-diam aku mendengarkan topik pembicaraannya, karena tidak punya lawan bicara.

"Coba liat rapot elu!" kata seorang anak kepada lainnya. Baru aku paham, ternyata hari ini adalah hari pengambilan hasil akhir pembelajaran atau rapor. Teringat juga, waktu masih SD dulu, setidaknya ada seseorang yang mendampingiku untuk mengambil rapor, biasanya salah satu, ayah atau ibu. Tapi hari ini, aku lihat di dalam angkot, tidak ada satupun orang dewasa yang mendampingi mereka, anak-anak ini mengambil rapornya sendiri. Ramai jadinya mobil ini, ocehan anak-anak SD menilai hasil teman-temannya sendiri. Aku hanya bisa tersenyum, diri serasa ditarik lagi ke masa kecil, ketika jantung berdebar cepat, menanti hasil akhir belajar.
Angkot terus berjalan menyusur, menuju wilayah Tangerang Kota. Tiba-tiba, telinga menangkap satu lagu.
"...mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya. Laskar pelangi..." Ya, Laskar Pelangi, salah satu lagu yang dibawakan oleh grup musik Nidji. Siapa tak kenal? Original Soundtrack sebuah film dengan judul yang sama, diangkat dari sebuah novel inspiratif karya Andreas Hirata. Lagu ini terus memenuhi dinding angkot, menyamai cericau seru anak-anak SD.

Entah kenapa seperti ada rasa berbeda petang ini. Sekumpulan anak SD yang baru mengambil rapornya ditemani dengan lagu inspiratif Laskar Pelangi, benar-benar membuat hati berdesir. Aku kembali tersenyum, membayangkan anak-anak SD ini yang juga tersenyum lepas menjadi generasi penerus Nusantara, menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Akan terjadi apabila mereka dapat menempuh seterusnya pendidikan mereka. Ada kecocokan di sini, lagu dan film Laskar Pelangi yang mengisahkan mimpi anak-anak Indonesia untuk terus belajar, berkembang, memahami dunia, mengiringi langkah anak-anak SDN 1 Kampung Melayu di dalam angkot bercericau tentang hasil belajar mereka.

Kejadian petang ini membuat pikir berkaca pada dunia pendidikan Indonesia sekarang. Pendidikan pun bukan hal yang mudah didapat, bukan suatu hal yang murah. Masih berjuta anak Indonesia yang belum mengecap dunia pendidikan. Masih berjuta rakyat ada di bawah garis kemiskinan. Sementara anak-anak Indonesia itu masih terus bermimpi, dan Indonesia masih terus mencari pemimpinnya, kita yang berada jauh di atas si miskin menjadi semakin tidak peduli.

Satu persatu anak-anak SDN 1 kampung Melayu Tangerang turun, tiba ditujuannya. Lagu Laskar Pelangi pun habis terdengar. Aku kembali sendiri di angkutan ini, memandang petang dan tersenyum kecil membayangkan senyum cerah anak-anak SD tadi, anak-anak dari Ibu Pertiwi, Indonesia...

Berkelana Di Hari Ini

Senin 26 Januari 2009, tahun baru Cina atau Imlek 2560 ini tanpa disengaja bertepatan dengan hari ulang tahunku..hehee... Seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu merayakan, menghadapi, dan meniup lilin ulang tahun dari mulutku sendiri, tanpa tepuk dan jabat tangan dari orang lain. Malah ditahun kemarin, harus merayakan hari jadi di dalam kereta ekonomi jurusan Jakarta-Jogja...yah, maklum, sedang berusaha menambah panjang nama dengan kata S.Sos...

Intinya tidak ada yang spesial menginjak 22 tahun umurku. Kata orang sih, itu sudah saatnya seorang laki-laki beranjak dewasa. Mungkin juga karena tidak ada yang spesial itu tadi, hari ini malah terasa spesial, merayakan dengan keheningan, senyap.

Beralih topik, kira-kira jam 8 pagi ini, aku berputar-putar mengelilingi sebagian wilayah Jogja. Berangkat dari Babarsari, menelusur Jl. Laksda Adi Sucipto, sampai di Tugu Jogja, kemudian ke selatan menembus Jl. P. Mangkubumi menuju Jl. Pasar Kembang. Aneh, sama sekali tidak terasa hawa perayaan Imlek tahun ini. Hanya jalan yang sepi, pun aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa. Niatku ingin mencari peristiwa untuk ditulis, daripada merayakan sendiri hari jadiku. Berpikir, apa aku yang kelewat siang, sehingga melewatkan perayaan atau pawai jalanan yang biasa ada ketika hari raya Imlek.

Sampai di Jl. RE Martadinata dan K.H Ahmad Dahlan, yang membujur dari barat ke timur menuju perempatan kantor pos besar Yogyakarta. Wah, ada iringan anak-anak kecil berbaju layaknya seorang karateka dengan warna merah kuning. Dengan cukup bersemangat akhirnya yang ditunggu datang juga. Semakin memperhatikan pawai itu, dan usut punya usut, di panji-panji bendera yang mereka bawa, bertuliskan "Tapak Suci Muhammadiyah". Hati menjadi lesu, niat pun aku urungkan. Namun terbersit juga di dalam pikir, semoga mereka yang masih kecil dan akan beranjak dewasa semakin menghargai perbedaan, dan semoga iring-iringan ini menandai semakin derasnya rasa toleransi dan menghormati antara kita manusia. Senyum di bibir pun aku sunggingkan, hati menjadi bangga.

Menuju aku ke arah Klenteng Gondomanan yang bernama asli Vihara Budha Praba. Pun keadaan sepi, memang kepulan asap yang mungkin berasal dari hio atau abu yang dibakar terlihat dari luar Klenteng. Sepertinya perayaan sudah berakhir, dan sepertinya lagi, benar, aku yang terlambat datang.

Satu Klenteng lagi yang hendak aku kunjungi, Klenteng Kranggan yang terletak di Jl. Poncowinatan, Yogyakarta. Klenteng yang dulu pernah terancam keberadaannya karena pembangunan sekolah Budya Wacana. Sekolah itu sekarang terletak persis di belakangnya. Klenteng yang satu ini memang dibalut oleh keramaian setiap harinya, keramaian pasar Kranggan. Aku lirikkan mata ke arahnya ketika menelusur jalan. Halaman depannya penuh oleh kendaraan bermotor yang parkir. Asap putih memenuhi ruang dalamnya. Keadaan tidak jauh berbeda dengan Klenteng Gondomanan, cukup sepi. Naluri jurnalistikku menurun, menyandarkan motor di halamannya pun tidak aku lakukan, akhirnya lewat begitu saja.

Sampai aku menulis catatan ini, kurang lebih telah satu setengah jam lewat aku habiskan berkeliling, tentu diiringi pikiran-pikiran nakal di jalanan. Seperti kita ketahui, di era presiden Abdurahman Wahid aka Gus Dur, Inpres No. 14 th. 1967 pada rezim Soeharto, yang melarang segala hal yang berbau Tionghoa, dicabut. Megawati Soekarnoputri sebagai presiden berikutnya menindaklanjuti dengan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden No. 19 th. 2002.

Aku pun berpikir, pantaslah Imlek tahun ini sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mungkin karena saudara kita warga Tionghoa tidak lagi butuh eksistensi. Eksistensi lewat pawai, iring-iringan, pertunjukkan barongsai, dsb. Mereka telah yakin diterima sebagai salah satu rumpun bangsa Indonesia. Mereka telah yakin, karena kita pun yakin mereka adalah tak terpisahkan sebagai satu tubuh, Indonesia. Jadinya kita sama-sama yakin, sebagai Indonesia. Atau malah sepi dari perayaan karena menurut mitologi, tahun ini adalah tahun kerbau, tahun dengan masa-masa sulit dan harus dihadapi dengan kerja keras. Oleh karena itu, Imlek lebih dirayakan dengan permenungan, dengan introspeksi diri pribadi demi memunculkan resolusi ke depannya, mungkin.

Yang pasti, aku pun layak memikirkan sebuah resolusi ke depan, mengingat umur yang sudah tidak muda lagi..hehee... Akhir kalimat ini tidak berakhir begitu saja, pikir dan tubuh harus terus berkelana, mencari sesuatu yang beda...selamat ulang tahun diriku!!! ^^

Drrtt...rrtttt...drrtttt...telepon selular bergetar, satu lagi ucapan 'selamat ulang tahun'...
terimakasih untuk kalian.....

January 24, 2009

Seminar Bersama Anand Khrisna

| Menuju Komunitas Multikultur Yang Humanis |
| Bersama: Anand Krishna |


Anand Krishna, membawa mahasiswa Atma Jaya yang berkumpul pada hari Sabtu 1 November 2008 di Auditorium Gedung Bonaventura Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi komunitas multikultur yang humanis. Dalam tema “Menuju Komunitas Multikultur Yang Dinamis”, Anand Krishna seorang tokoh spiritualis lintas agama, nasionalis, dan humanis memulai pembahasan kajiannya dengan terlebih dahulu mengkritik kawan-kawan mahasiswa karena berceloteh sendiri ketika Dibyo Prabowo selaku rektor UAJY membuka seminar pagi itu. Kritik pedas Anand Krishna kepada kawan kawan mahasiswa memang dibalut oleh sebuah cerita lucu, perumpamaan tentang sebuah iklan cetak bergambar mobil dan seorang wanita seksi.

Bahasa gambar itu diterjemahkan oleh Anand Krishna dengan bahasa lisan humor yang sedikit vulgar, dan ternyata hal itu malah menarik perhatian mahasiswa untuk mendengarkan. Sepertinya ini memang sedikit cara yang digunakan oleh Anand Krishna untuk menarik minat/atensi mahasiswa untuk dapat masuk ke dalam topik yang akan beliau bahas. Pagi itu perhatian mahasiswa mungkin juga tertuju pada pengap, panas, dan sesaknya ruangan yang penuh, ditambah matinya pendingin udara, dan tidak dibukanya jendela sebagai jalur keluar masuknya udara.

Kemudian kata-kata tentang pengertian budaya dari Ki Hadjar Dewantara beliau petik, masih melanjutkan kritiknya kepada kawan-kawan mahasiswa. Budaya merupakan kumpulan adat-adat yang unggul (Ki Hadjar Dewantara). “Kebiasaan yang baik dari seluruh nusantara, itulah budaya” lanjut Anand Krishna. Menurutnya lagi, budaya-budaya yang unggul tersebut yang patut dikembangkan, dan berceloteh sendiri ketika ada orang berbicara di depan bukan sama sekali budaya yang unggul, jadi jangan sampai dikembangkan. “Percuma jika kita ingin mempelajari multikultur jika kita tidak tahu mana adat-adat yang unggul yang bisa dikembangkan”, tutur Anand Krishna. Mahasiswa seperti terhenyak dan seketika langsung memperhatikan.

Multikultural sebagai nilai yang baik, jangan pula dilihat sebagai suatu yang absolut dan diterima sepenuhnya. Jangan hanya karena tuntutan dan dengan tameng multikultural, seseorang boleh bertindak sekenanya, tanpa memperhatikan nilai-nilai sosial yang berlaku pada suatu daerah atau budaya. “Semua harus ada ‘moment various’, nilai-nilai yang ada dimana-mana”, bahas beliau. Multikultural juga mengakui keberagaman budaya, oleh karena berbagai macam budaya tersebut, tentunya budaya yang unggul, harus dapat dihormati oleh setiap individu, agar tercipta suatu pemahaman kultural yang kemudian menimbulkan sisi humanisnya.

Indonesia dengan beragam budayanya erat terkait dengan sejarah masa lampau dan dengan beragam agama yang menyertainya. Ketika membahas masalah agama, Anand Krishna memberikan ‘acungan jempol’ kepada Atma Jaya yang telah menembus koridor atau sekat-sekat antar agama dalam sistem pembelajarannya. Bahwa yang lebih penting adalah mempelajari bagaimana hadirnya dan sejarah panjang agama secara umum. Tidak lagi yang beragama Hindu harus berada di ruang berbeda, yang beragama Islam kemudian disendirikan, atau kawan beragama Katolik harus kuliah di tempat berbeda, begitu seterusnya. Semua hal itu di mata seorang Anand Krishna telah berhasil dilebur oleh Atma Jaya ke dalam suatu sistem pembelajaran yang lebih dinamis dan humanis. Menurutnya, agama di Indonesia bukan murni ajaran dari agama itu sendiri. Cinta kasih adalah satu ajaran yang pasti ditekankan oleh setiap agama yang ada di Indonesia, inilah yang beliau tonjolkan. Sebuah nilai universal yang berada di balik semua ajaran dan tata cara yang dimiliki masing-masing agama. Permasalahan menjadi berbeda dan mungkin timbul ketika agama telah tercampur oleh tradisi atau budaya yang bukan berasal dari tempat di mana agama tersebut lahir.

Beliau mengambil contoh tentang kasus ‘Syeh Puji’ yang menikahi anak berumur 12 tahun. Hal ini merupakan adopsi dari budaya timur tengah tepatnya Iran yang mengeluarkan fatwa, bahwa ‘bila anak gadis sudah menstruasi, berarti dia sudah boleh di nikahi’. Menurutnya, mengakui perbedaan bukan berarti dapat membenarkan setiap adopsi budaya tanpa mempertimbangkan kondisi sosial dan nilai-nilai moral di mana ia berpijak. “Saya tidak bisa menerima hal-hal buruk dari budaya lain”, tegas Anand Krishna. Becermin pada beragamnya budaya dan adat istiadat asli (native).

RUU Pornografi yang telah disahkan, pun tidak lepas dari pembahasan. Undang-undang ini menurutnya juga merupakan representasi dari kebudayaan timur tengah, khususnya Arab. Ironisnya, orang-orang Arab justru tidak mempermasalahkan ketika seorang perempuan bertelanjang dada karena kepanasan (hal ini berarti terkait dengan konteksnya). Sejauh itu bukan istri saya, tidak menjadi masalah, kira-kira seperti itu kaca mata orang Arab memandang pornografi.

Anand Krishna membaca adanya kesalahan tafsir terhadap budaya dan tradisi, terkhusus tradisi timur tengah (Arab) dan agama Islam di Indonesia. Kesalahan terletak ketika dulu orang Indonesia memandang bahwa tradisi/budaya orang Arab adalah agama Islam (yang terbawa hingga kini). Berawal dari kerajaan Samudra Pasai yang dahulu adalah orang-orang kerajaan Sriwijaya yang berlayar dan berdagang ke Arab. Sekembalinya dari Arab, sebetulnya yang mereka kembangakan adalah budaya dan tradisi sosial masyarakat Arab, ini dibaca sebagai tafsir dari agama Islam, sampai sekarang. Kemudian efek domino dari itu semua, muncullah stigma, bahwa segala yang datang dari Arab dan timur tengah adalah Islam, dan yang datang dari barat dan eropa adalah Kristiani. Anand Krishna kemudian menilai ada yang perlu dibenahi dari kepala anak-anak Indonesia kelak. Bahwa pembelajaran tentang sejarah agama adalah penting dan perlu dipahami sejak dini, meminimalisir stigma dan chauvinisme agama yang berlebihan.

Ketika sesi tanya jawab di buka, yang menarik adalah ketika Anand Krishna menjawab pertanyaan tentang perkawinan campur dan suntik mati. Semua kembali kepada konteksnya masing-masing. Beliau mengatakan bahwa iman juga harus berjalan berkembang seiring dengan proses atau kemampuan intuisi kita. Dalam perkawinan campur, butuh banyak pertimbangan. Mengkaji ulang nilai kepentingan yang mempengaruhi keberadaannya tetap harus dipikirkan, ketika juga dikatakan bahwa perkawinan campur adalah cerminan dari Pancasila.

Hal sama berlaku pula dalam kasus suntik mati, prosedural medis juga harus mempertimbangkan kondisi atau keadaan pada saat itu. Suntik mati pun memiliki beberapa prasyarat untuk dapat dijadikan keputusan final. “Brain dead” atau kematian otak, ini salah satu pertimbangan, di mana suntik mati dapat dipilih. Kematian otak mematikan seluruh fungsi tubuh. Ketika diberi alat bantu nafas, tentu masih sanggup bernafas, namun tetap tidak ‘hidup’. Pertimbangan-pertimbangan humanis seperti ini yang mungkin mematahkan anggapan dari agama, bahwa melakukan suntik mati itu, adalah salah. Pada akhirnya semua keputusan harus berjalan mempertimbangkan setiap kondisi dan konteksnya, terhadap solusi-solusi terbaik serperti apa yang sekiranya dapat dipilih. Menyertakan juga dampak setiap keputusan yang diambil.

Menutup seminar dan pertemuan siang itu, Anand Krishna memiliki pemahaman, bahwa ketika masyarakat memiliki stigma negatif dan pesimis, serta tafsir yang salah terhadap agama, bukan berarti agama harus dihapus atau ditiadakan. Menurutnya penghapusan suatu agama hanya akan memunculkan agama baru, yaitu ‘atheis’. Pentingnya pembelajaran sejarah agama dari sejak dini seperti menjadi proyek utama dari seorang Anand Krishna dalam mencapai sebuah nilai universal di balik keberagaman itu semua. Love, Peace, and Harmony. Fin.

Dunia Di Luar Dunia

“...nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.”


Begitu kira-kira ungkapan seorang filsuf Yunani yang pernah membuat seorang Soe Hok Gie berpikir. Lalu siapa yang bisa meminta untuk tidak dilahirkan? Ketika telah lahir ke dunia dan telah melihat semua kesedihan yang terjadi di dunia, mungkin Aku dan banyak dari kalian di luar sana memilih untuk kembali ke rahim Ibu, berdiam di sana untuk selamanya, dan berharap untuk tidak di lahirkan ke dunia. Namun sayangnya, harapanku tidak terkabul, yang berkuasa atas Aku, telah menghembuskan nafasnya lewat rahim Ibuku, Aku terlahir ke dunia.

Ketika kecil dulu Aku melewati detik-detik terindah dalam hidupku. Indah seakan tanpa beban, dan Kau tahu?? dunia ketika itu masih cerah berwarna-warni berputar mengelilingi otak dan tubuhku. Langkah ceriaku ringan berlari. Mungkin terlalu ringan, sampai-sampai Aku tidak bisa merasakan langkah kakiku sendiri. Aku serasa hidup di awan. Dunia ketika itu masih penuh dengan gelak tawaku dan teriakan sayang teman-temanku.

Ketika tubuhku semakin bertambah besar, langkah kakiku masih terasa ringan. Namun, mulai tumbuh benih-benih kebencianku terhadap dunia. Aku tidak tahu, kenapa cerahnya warna-warni dunia waktu sebelumnya sedikit memudar?? Dan Aku tidak suka hal itu. Ketika otakku semakin membesar, dunia pun ikut membesar, namun kenapa warna-warninya tidak ikut membesar?? Aku tidak tahu. Untungnya, Aku masih bisa mendengar gelak tawa dan teriakkan sayang teman-temanku sendiri.

Dunia semakin menghitam!!! Aku tidak suka hal ini, Aku mulai benci pada dunia. Dia semakin membesar di dalam otakku dan mulai membebani otakku dengan warna-warninya yang semakin memudar saja. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, dunia mulai terlalu menguasai pikiranku. Langkahku semakin berat dan menjadi gontai. Aku mulai bosan dengan dunia yang sekarang, Aku merindukan dunia yang dulu cerah berwarna-warni. Aku pun mulai tersedak dan tidak bisa berkata-kata. Aku tidak senang, Aku ingin duniaku yang dulu!!! Kemana teman-temanku?? Aku menjadi sedih, Aku tak berdaya!!! Aku benci dunia!!!

Dunia benar-benar terasa berat, dan entah kenapa wajahnya semakin muram dan bersedih. Kenapa Dia yang menjadi sedih!!? Seharusnya Aku!!! Dunialah yang membuatku seperti ini!!! Aku menjadi sangat benci kepada dunia!!! Dia semakin besar saja di otakku, semakin hitam pekat, dan terlalu banyak meneteskan air mata. Masa bodoh!!! Dia yang menyebabkan Aku seperti ini. Langkahku menjadi sangat berat, gelak tawa menjadi hilang, dan teriakkan sayang itu menjadi cemooh dan cacian. Aku benar-benar benci pada dunia!!!

Biar saja dunia semakin hitam dan terus menangis, Aku tidak peduli!!! Bahkan sampai Dia mati dan hancur dari otakku pun, Aku tidak peduli, masa bodoh!!! Aku masih bisa hidup walaupun dunia telah mati!!! Bahkan mungkin Aku akan menciptakan dunia yang baru yang sesuai dengan keinginanku!!! Aku akan menciptakan dunia baru dalam otakku. Dunia yang bebas yang selalu gemerlap dan berwarna-warni.

Selamat tinggal dunia, matilah dengan segala beban dan air mata yang terus Kau teteskan. Aku berharap tidak ada orang yang akan membantumu menyeka air mata itu. Dan Aku yakin tidak akan ada lagi orang yang mau mewarnaimu dengan warna-warna yang cerah, karena orang-orang itu juga telah mati otaknya. Kau akan terus hitam, kelam dan membusuk!!!

January 08, 2009

Analisis Program Metro Files


Anatomi program
Nama Program : METRO FILES
Genre : Program dokumeter sejarah
Stasiun : METRO TV
Hari Tayang : Minggu
Waktu Tayang : 20.05 – 21.00 WIB
Pembawa Acara : - (narasi)

Deskripsi Program
METRO FILES merupakan program acara dokumenter yang memfokuskan diri pada suatu peristiwa bersejarah, seorang tokoh bersejarah, atau seorang tokoh bersejarah dalam peristiwa yang bersejarah pula. Metro Files is a documentary that dissects on affair which occurred in history. An affair that is hidden, controversial, dramatic and breathtaking. Other strength points, Metro Files also presents archive footages that many have not witnessed.[1]

Latar Belakang
Menurut survey yang dilakukan oleh Yayasan Science dan Estetika, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, Yayasan TIFA, serta Departemen Komunikasi dan Informatika, berbagai acara hiburan di televisi dinilai buruk oleh kalangan masyarakat.[2] Dewasa ini pun televisi melalui program-program acaranya banyak dikritik, baik oleh pemerhati media, aktivis sosial, pendidikan, maupun HAM. Televisi dinilai belum memaksimalkan fungsi pendidikan yang dimilikinya.

Dengan fungsi pendidikannya, sepertinya wajar ketika televisi dan media massaIndonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian menurut Darwanto, peranan media massa dalam pembangunan nasional adalah sebagai agan pembaharu (agent of social change), dalam hal ini membantu proses peralihan masyarakat tradisional ke masyarakat modern.[3] lainnya kita masukkan ke dalam salah satu komponen tujuan nasional yang diproses dalam sebuah pembangunan bangsa

Bangsa Indonesia seperti kita ketahui selama ini, tidak habis dirundung permasalahan, pada semua tingkatan masyarakat. Di tambah dengan kriris multidimensi global yang saat ini juga merambah sampai ke Indonesia. Motivasi dari pemerintah kepada rakyatnya untuk tetap bertahan dalam krisis selalu digaungkan. Semua itu merupakan proses pembangunan bangsa (nation building). Memperkuat jati diri dan menempa mental bangsa ini di tengah segala krisis. Nation building menuntut semua komponen masyarakat untuk turut andil mendukung dan berproses di dalamnya, termasuk media massa, khususnya televisi. Apalagi meskipun menurun, televisi masih menjadi media massa yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, juga terkait dengan kemampuannya mengubah sebuah budaya dan pola prilaku masyarakat.

Menilik fungsi pendidikan pada televisi, cukup menarik membaca peranan televisi saat ini. Bagaimana (perusahaan) televisi lewat program tayangannya memunculkan konsep nation building sebagai media pembelajaran dan pemersatu masyarakatnya di tengah kondisi krisis seperti sekarang ini. Nation building yang di dalamnya didukung kembali oleh banyak faktor dan aspek-aspek lainnya. Nation building yang selalu berjalan dinamis sebagai sebuah proses dan tujuan serta pembelajaran suatu bangsa, Indonesia pada khususnya.

Rumusan Masalah
Bagaimana program acara “METRO FILES” yang diproduksi oleh METRO TV menyampaikan konsep nation building dalam setiap edisinya?

Kerangka Teori
Konsep Nation Building
Prof. Carolyn Stephenson dalam tulisannya tentang nation building, menganggap definisi nation building sangat normatif dan konstekstual. Menurut perspektifnya, “The latest conceptualization is essentially that nation-building programs are those in which dysfunctional or unstable or "failed states" or economies are given assistance in the development of governmental infrastructure, civil society, dispute resolution mechanisms, as well as economic assistance, in order to increase stability.”[4]

Sementara itu menurut Edi Sudradjat dalam buku kajian Lemhannas, nation building merupakan segala usaha dan daya upaya yang dilakukan secara terpadu oleh seluruh rakyat dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya, mencapai tingkat kehidupan bangsa yang lebih baik sebagaimana dicita-citakan (Edi Sudradjat 1982: 4). Nation building sebagai sebuah konsep berkaitan erat dengan identitas suatu bangsa (nation identity). Carolyn Stephenson juga menempatkan nation identity sebagai salah satu komponen dari nation building. “The people of a nation generally share a common national identity, and part of nation-building is the building of that common identity”.

Pembelajaran Sejarah Dalam Nation Building
Prof. Sam Wineburg dalam bukunya Berpikir Historis: Memetakan Masa Depan, Mengajarkan Masa Lalu, menyatakan bahwa sejarah dapat mengajarkan kepada kita cara-cara untuk menentukan pilihan dan juga untuk memperhitungkan berbagai pendapat. Sejarah juga memiliki potensi (yang baru sebagian saja terwujud) untuk menjadikan kita manusia yang berperikemanusiaan.[5]

Menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, nation identity adalah aspek yang berperan dalam nation building, maka yang melandasi identitas sebuah bangsa adalah sejarahnya. Apabila identitas seseorang pribadi dikembalikan kepada riwayatnya, maka identitas suatu bangsa berakar pada sejarah bangsa itu. Bangsa yang tidak mengenal sejarahnya dapat diibaratkan seorang individu yang telah kehilangan memorinya, ialah orang pikun atau sakit jiwa, maka dia kehilangan kepribadian atau identitasnya (Sartono 1993: 50). Lewat pengenalan dan pembelajaran sejarah, kesadaran nasional dapat dipupuk dan identitas nasional menjadi landasan kuat bagi pembangunan bangsa, kiranya jelas bahwa pengkajian sejarah mempunyai fungsi fundamental dalam pembangunan bangsa serta pembentukan manusia Indonesia yang bermartabat.[6]

Television Viewing as a Cultural Practice
Pemirsa televisi kiranya perlu paham benar bahwa frase ‘menonton televisi’, bukan sekedar frase mati yang tanpa pemahaman. Lebih jauh lagi, menonton televisi dinilai dapat membentuk budaya masyarakat. “…television viewing provides a prominent occasion for viewers construction of culture” (Michael K. Saenz dalam Newcomb, 1994: 573). Dari menonton televisi seseorang mendapat sebuah informasi atau ilmu pengetahuan yang menjadi referensi, mempengaruhi pola prilakunya sehari-hari.

Menurut Bourdieu seperti dikutip Michael K. Saenz, televisi bukan menjadi pelaku utama (pembentuk budaya) dalam kehidupan sosial masyarakat, juga bukan sebagai refleksi dari kehidupan. “…but as a material used in making meaning and action, as a component of ‘doxa’ used in the production of social practices” (Bourdieu 1986, 164). Dari pandangan Bourdieu tersebut, televisi hanyalah sebatas bahan atau komponen, otoritas memilih tayangan tetap berada di tangan masyarakat.

Menurut pandangan para ilmuan, penonton televisi juga terikat oleh pengalamannya pada masa lampau yang kemudian semakin berkembang dan mengubah pandangannya (relationship) terhadap identitas negara, bangsa, dan masyarakatnya. Michael K. Saenz mengemukakan pemikirannya tentang bagaimana seharusnya masyarakat menggunakan televisi untuk merekonstruksi identitas bangsanya. “The ethnic seeks to reconstruct her identity, and establish a kind of ethical program for her self, by tying herself retrospectively to the world of her parents and the people surrounding her in youth.”()[7]

Deskripsi Analisis
Hal-hal teknis yang menurut saya memperkuat aspek ‘sejarah’ (selain tema besar edisi) dalam tayangan METRO FILES terjabar seperti berikut ini:

· Bumper in => pada bumper in, dominasi warna adalah coklat hitam, berisi judul acara METRO FILES dengan didampingi oleh foto-foto ‘usang’ hitam putih, yang dibuat kolase dan saling berganti. Angka-angka tahun seperti 1965, 1983, 1945, 1928, 1908 juga mengisi gambar bumper in, berselang-seling dengan opacity rendah membayangi foto-foto usang tersebut.

· Materi gambar/foto => gambar ilustrasi atau foto-foto yang mendukung dan mendominasi tayangan METRO FILES, selain tayangan wawancara dengan narasumber serta reka adegan.

· Reka adegan => METRO FILES merekonstruksi juga adegan pada momen-momen tertentu disetiap edisinya. Hal ini membantu pemirsa untuk mendapat penggambaran keadaan pada masa tersebut. Reka adegan menyelingi gambar atau foto juga sebagai kombinasi agar penonton tidak bosan.

· Zoom in/out => ketika materi foto atau gambar ilustrasi ditampilkan, efek mata kamera menggunakan fungsi zoom in dan zoom out. Hal ini sebagai efek dramatis, menimbulkan fokus pemirsa terhadap materi foto atau gambar ilustrasi tersebut.

· Warna => dominasi warna ketika menampilkan reka adegan, ataupun materi foto dan gambar ilustrasi adalah hitam putih tidak jarang warna-warna sephia dimunculkan, permainan warna ini menimbulkan kesan lama/usang, sesuai dan mendukung tema sejarah yang diangkat.

· Musik ilurstrasi => musik ilustrasi yang dipilih mendukung dan menyesuaikan perbedaan materi bahasan disetiap babaknya.

Konten sejarah dalam METRO FILES
Pada bagian ini saya mencoba membahas dan mendeskripsikan konten acara pada episode 15 Desember yang lalu. Dalam tajuk “Raja Pati Perang Badung”, pemirsa METRO FILES diajak untuk kembali pada awal abad ke 19, khususnya di pulau Bali. Pada awal tayangan, narator menceritakan dengan singkat awal terjadinya perang Puputan di Bali, di mana Belanda mulai masuk ke wilayah Bali dan melakukan negosiasi-negosiasi politik dengan setiap kerajaan yang ada di Bali.

Narasi yang menjadi pemandu pemirsa ditemani oleh gambar dan musik ilustrasi serta reka adegan sebagai tambahan gambaran kejadian masa itu. Secara keseluruhan, pada episode Raja Pati Perang Badung, materi bahasan dibagi menjadi beberapa (kita istilahkan) babak. Setiap babaknya diselingi oleh slot iklan. Misalnya setelah perkenalan awal, iklan masuk sebagai jeda menuju pembahasan berikutnya, begitu seterusnya. Hal ini dapat menjadi panduan pemirsa untuk mengetahui bahwa dalam pembahasan setiap episodenya terdapat jenjang atau fokus yang berbeda.

Pada episode ini, METRO FILES mengambil cerita hanya dari awal sampai dengan berakhirnya perang Puputan di Bali, tentu diawali dengan sedikit latar belakang. Pada pertengahan materi, beberapa sejarawan diundang untuk turut menjelaskan. Biasanya sejarawan Asvi Marwan Adam menjadi langganan naraPara sejarawan diwawancarai sesuai dengan kompetensinya pada fokus-fokus sejarah tertentu. Pada edisi ini, Anhar Gonggong menjelaskan secara umum tentang latar belakang kedatangan Belanda di Bali. Kemudian, I Nyoman Wijaya menjelaskan, secara historis munculnya kerajaan-kerajaan di Bali lalu mengerucut pada kerajaan Badung, di mana perang Puputan terjadi. sumber yang diwawancarai, namun kali ini yang dimintai penjelasan adalah Dr. Anhar Gonggong selaku sejarawan nasional, kemudian Drs. I Nyoman Wijaya sebagai sejarawan daerah.

Pada akhir tayangan, seperti ada kesimpulan yang diambil. Narator juga para narasumber, meninggikan sifat heroik yang ditunjukkan masyarakat Bali pada saat perang Puputan terjadi, walaupun diakhiri dengan kekalahan. Secara umum, mereka memandang dibutuhkannya sikap nasionalisme dan pantang menyerah seluruh rakyat Indonesia dalam segala kekurangan dan bencana yang sedang melanda. Bahwa, usaha keras masyarakat Bali dalam mempertahankan ibu pertiwi saat perang Puputan terjadi, perlu menjadi inspirasi dan contoh dalam kehidupan masa kini. Ketika yang diangkat adalah profil dan pemikiran seorang tokoh, maka poin-poin pemikiran tokoh tersebut yang sekiranya dapat menjadi kesimpulan dan motivasi untuk masyarakat diangkat pada akhir tayangan.

Menurut saya, ketika dipandang dari konsep televison viewing as a cultural practice, METRO FILES merupakan program yang dibutuhkan masyarakat Indonesia untuk membina identitas bangsa, terlebih di tengah kondisi krisis seperti ini. METRO FILES menjadi program yang dapat mengkonstruksi pemikiran masyarakat dan menciptakan budaya, agar melihat sejarah lebih jauh sebagai landasan untuk kita bertindak ke depan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Seperti dalam pandangan Bourdieu, METRO FILES sebagai tayangan televisi dapat menjadi komponen dan bahan dasar dari produksi prilaku sosial. METRO FILES dapat menjadi tambahan referensi setiap pemirsa yang (ingin) mengkonsumsinya, terhadap bagaimana mereka memandang bangsa, negara, dan masyarakatnya. Lewat tayangan kesejarahan, METRO FILES memupuk jati diri masyarakat dan nation identity dalam rangka pembangunan bangsa. Seperti terjabar pada konsep nation building, di mana pembangunan sebuah bangsa membutuhkan identitas bangsa sebagai modal mental dan rasa percaya diri masyarakat. Identitas sebuah bangsa tidak lain dibentuk oleh pengalaman kolektif bersama yang kemudian menjadi sejarah yang dapat juga melegitimasi eksistensi sebuah bangsa.

Semuanya dapat dimulai ketika setiap individu paham bahwa ‘televisi’ dan ‘menonton televisi’ bukanlah hal yang sederhana. “The social currency viewers accord television is not attributable simply to the medium representations of society, nor exclusively to its ability to propagandize, but also, fundamentally, to the opportunity it provides for exercising viewers adeptness at cultural production” (Michael K. Saenz dalam Newcomb 1994: 574). Merujuk pula pada pandangan Michael K. Saenz, di mana setiap masyarakat yang berbangsa seharusnya mencari program tayangan televisi yang etis dan dapat membangun identitas bangsanya. Sudah saatnya otoritas kembali kepada tangan pemirsa, untuk memilih, dan mengkonsumsi program acara yang disuguhkan oleh televisi.



[1] Baca www.metrotvnews.com, terdapat deskripsi singkat disetiap link program acara. Akses 12 Desember 2008.

[2] Baca www.korantempo.com edisi 4 Desember 2008, “Acara Hiburan TV Dinilai Buruk”. Akses 13 Desember 2008.
[3] Darwanto dalam bukunya “Televisi Sebagai Media Pendidikan”, 2007.
[4] Prof. Carolyn Stephenson dalam tulisannya Nation Building. www.beyondintractability.org. Januari 2005. Akses 13 Desember 2008.
[5] Sam Wineburg dalam buku Berpikir Historis: Memetakan Masa Depan, Mengajarkan Masa Lalu. 2006.
[6] Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo dalam bukunya “Pembangunan Bangsa”, 1994.
[7] Television as a Cultural Practice diambil dari Television: The Critical View yang disusun dan diedit oleh Horace Newcomb, 1994.